Tulisan ini sedikit dipengaruhi oleh kondisi
per-partaipolitik-kan di Indonesia saat artikel ini ditulis, saya tidak
membahas apa yang terjadi di Indonesia namun menganalisa dan belajar sesuatu
yang saya dapat ketika blusukan spiritual di Malaysia.
![]() |
| Tempat ibadah di tepi jalan |
Setiap pagi saya keluar dari condo tempat saya tinggal
pada jam dan menit yang tidak banyak berbeda. Tentu security guard adalah orang
yang selalu pertama kali saya sapa untuk keluar dari condo, mereka dari negeri
tetangga lain dari Malaysia rata-rata dari sekitaran Pakistan, Nepal. Setelah
itu saya akan melewati sebuah tempat dari show
room besar mobil buatan Jepang. Test drive dari mobil versi baru pun pernah
saya coba, ya namanya juga bertetangga dengan condo tempat saya tinggal, para
petugas dari keturunan Bangladesh pun sigap dan penuh respect ketika saya
mencobanya, masalahnya mencobanya tidak hanya sekali kadang tiap hari sabtu
minggu dengan mobil yang berbeda. Dia adalah teman-teman saya, tetangga saya
tepatnya. Hidup di sini berbeda dengan kondisi di Depok, dimana saya tinggal
dalam cluster terbuka; tetangga, anak kecil, kucing dan kelinci bisa bebas main
ke taman rumah. Asik pokoknya. Ketika tinggal di condo saya kehilangan
segalanya, bak tiada tempat untuk sosialisasi, masuk lift lalu keluar dan
masing-masing menuju unit terus dikunci itupun dikunci 2 kali, yang pertama
kunci utama macam gerbang lalu kedua kunci pintu. Astaga, mana ada orang macam
burung dara!
Pergi kerja pagi seperti hari-hari biasa, namun tiap
pagi saya selalu menghisap asap hio, ya tiap pagi di pojok jalan pasti ada
orang yang sedang sembahyang dengan dupa dan memberikan sedikit ‘sesajen’
makanan atau minuman, mohon dibenarkan atas istilah ‘sesajen’ karena saya tidak
tahu apa itu sebenarnya. Saya pun tetap menyapa orang-orang yang antri buat
sembahyang, awalnya dari senyum lalu kini saya dengan senang berucap “Hi
morning….”. Kadang pun mereka duluan yang menyapa saya…dengan senyum yang segar
dari wajah yang jauh lebih putih daripada kulit saya, dari para keturunan
Tionghoa ini. Mereka kenal sangat dengan saya, ketika masih jauh pun kadang ada
yang melambaikan tangan, saya kadang membalasnya terlalu lebay juga sehingga
pada suatu saat ada taksi berhenti karena lambaian itu.
Apa yang saya pikirkan saat itu bukan pada mereka yang
sembahyang, saya terpikir pada pemerintahan dan warga negeri dimana saya
tinggal saat ini. Mungkin saja jika bangunan tempat sembahyang tadi ada di
pojok sebuah jalan di Indonesia sudah pasti akan dirobohkan, mungkin pun
ditendang-tendang atau minta dipindahkan ke jauh di sudut tempat yang tidak
mudah dilihat orang. Padahal di daerah saya tinggal ini adalah bagian dari
Malaysia yang hukum Islamnya ketat, demikian juga penuturan para warga dan
teman-teman kantor client tempat saya mengerjakan project. Bahkan dalam gerai
dan kedai tidak akan ditemui minuman bir kadar rendah alkoholnya sekalipun.
Dilarang dijual, itu aturannya.
Kematangan dan sifat terbukanya warga M’sia dalam
beragama menurut saya adalah hal yang indah. Memang tidak sedikit tempat-tempat
ibadah didirikan selain tempat ibadah muslim, dibangun macam untuk keturuan
India, Cina dan tentu Melayu sendiri. Dalam sehari-harinya saya pun merasakan
indah dan teman saya yang keturuan India yang masih memakai titik merah di
dahinya pernah mengingatkan saya dalam suatu sarapan pagi bersama: “Hi Wahyu,
you belum baca bismilah kan?” Tentu diikuti gurauan dari teman-teman lain.
Di negeri kita sering sekali terjadi konflik agama,
karena kita terlalu fanatik terhadap agama dan ras kita sendiri, membatasi
pergaulan karena perbedaan, dan tulisan ini adalah sudut pandang saya tidak
mewakili siapa pun, bahkan dalam kehidupan beragama pun kita lebih sering
ditanamkan sisi yang dianggap jelek di agama lain. Kita sibuk mengurusi dan
menelusuri apa yang bisa menjatuhkan agama lain tapi lupa apa yang semestinya
dikerjakan oleh agamanya sendiri. Dan banyak perwakilan yang mengatasnamakan
agama tapi bertindak sangat anarkis, di jalan bisa menutup jalur dengan bebas
bahkan sebagian besar naik motor tanpa helm.
Dan yang hebat lagi ada semacam perlombaan
mengumpulkan pemeluk, mungkin ingin keliatan besar dan menyatu, sehingga macam
stadion olah raga terbesar di Indonesia pun dibuat untuk berkumpul namun mereka
lupa bahwa stadium itu adalah tempat berolah raga yang seharusnya tanpa
memandang suku dan agama, mereka berlatih bersama untuk menuai medali emas di
perlombaan besar dunia untuk Indonesia. Kita lupa itu, lebih lebay pada
mendatangkan pembicara yang keliatan hebat atau sekadar mengibarkan bendera
suatu organisasi biar keliatan banyak dan menyatu. Kita lupa pada sesuatu yang
harusnya berwawasan kebangsaan, menyatukan satu negeri dengan segala
perbedaanya. Kita lupa jika kita hanya bekerja sendiri tidak akan dicapai
kemajuan bangsa. Kita pun terlalu naïf, tidak pernah melakukan benchmarking, tapi mudahnya menganggap
jelek sesuatu di kaum lain.
Ketika bertemu sesama agama kita selalu diajak berargu
pada sesuatu yang berbeda dalam agama masing-masing, konyol tentunya, namanya
juga ajaran tidak usah ditanyakan pun pasti berbeda, bagimu agamamu dan bagiku
agamaku. Tapi sejak kecil kita banyak dihadapkan pada yang demikian, orang yang
lebih tua masih ada yang menitipkan hal demikian di hati kaum muda, harusnya
itu diakhiri dan ditanamkan bahwa agama itu berbeda ajaran, dari namanya saja
sudah berbeda pasti ajarannya berbeda.
Bagiku di negeriku tidak perlu dilihat banyaknya
tempat ibadah, dan tidak perlu ditotal berdasar populasi umat, namun yang
diperlukan seberapa besar umat agama masing-masing menjalankan agamanya, disitu
ada nama Tuhan, Tuhan tidak pernah menyuruh melukai makhluknya, sekalipun
kepada hewan dan tumbuhan. Bacalah kitab murni ajaran Tuhan. Intinya kita
berusaha menjalankan agama secara sempurna, bukan menjalankan agama secara
lebay, sehingga pemerintahan negeri kita yakin bisa maju karena agama bukan
kedok lagi, nilai spiritualnya akan memutar dan mengarahkan hati pada
kebaikkan. Maka janganlah kamu beragama secara ‘lebay’.
