Minggu, 20 April 2014

Jihadlah Kepada Kaum Muslim Sendiri


Ilustrasi: Crystal Mosques, Terengganu terletak di kawasan yang asri
Saya baru saja mendarat di Terminal 3 Soekarno Hatta Airport Cengkareng. Selepas pengecekan imigrasi saya menuju surau di lantai bawah. Ketika mau sholat tercium bau rokok dan membuat saya mencari si perokok itu.

Terlihat orang berpeci merokok, orangnya besar bergaya ‘haji’ style.

Double check, apakah area itu smoking area atau bukan. Tidak ada tanda smoking area, lalu saya tegur.


Artikel ini terpilih menjadi
artikel "INSPIRATIF"
di Kompasiana 19-20 April 2014
‘Maaf Pak, ini bukan tempat merokok’ tegur saya sambil sesek rasanya melihat abu berserakan di lantai airport yang bersih.

‘Ini tempatnya merokok, tuh disediakan tempatnya’ tukas si ‘haji’ styler sambil menunjuk tong sampah yang disediakan dalam airport.

Saya tak emosi, saya jelaskan seperti mendidik orang yang belum tahu itu adalah tong sampah.

Tapi diakhir sebelum pergi saya katakan:

‘Tuhan Bapak dan Tuhan saya itu maha bersih, Dia senang akan kebersihan’.

‘Ini surau, di depan surau, tempat kita berdialog dengan Sang Maha Bersih’

Baru dimatikan itu rokok.

Note:
Jihad banyak diartikan permusuhan kepada kaum non muslim, itu tidak tepat, jihad adalah perjuangan kebaikan dan yang penting kebaikan di dalam kaum muslim itu sendiri dahulu.

Selamat membentuk dan mewujudkan Indonesia menjadi negeri teramah di dunia.

Minggu, 23 Maret 2014

Blusukan di Malaysia Part VIII: Pasar Petani

Satu hal yang sangat saya cermati adalah pertanyaan dari saudara saya sendiri ketika berkunjung ke Kuala Lumpur, kenapa di daerah luaran Kuala Lumpur tidak sebanyak mini market atau hipermarket seperti di Jakarta atau kota lainnya di Indonesia.

Ya, kisahnya pun dari satu kenangan lama saya, dulu waktu saya sekolah menengah mendapat ejekan karena saya di kota yang jaman dulu tidak ada mal. Anggapan masyarakat awam di negeri kita yang disebut hidup modern adalah berdampingan dengan mal, tapi kini apa yang terjadi disisi ekonomi mikro di Indonesia terhimpit oleh mini market yang hampir tidak terkontrol.

Lokasi pasar tani yang biasa dibuka ditengah pemukiman
Kini, saya senang sekali mempelajari pasar tani, ha...masak ada pasar tani di kota seperti Kuala Lumpur? Saya sudah masuk keluar pasar tani diberbagai tempat, di kompleks elite kawasan Kota Damansara atau pun di dusun kecil di Rawang, dekat Perak.

Memang saya tidaklah ahli dalam pertanian tapi setiap hal yang baik saya suka pelajari, saya suka berpikir untuk negeri Indonesia walau bagaimana mewujudkannya tentu bukan saya sendiri, saya ingin berbagi pemikiran, lalu apa yang baik saya suka terapkan untuk diri pribadi.

Menemukan pembeli dan petani secara langsung bisa menekan harga
Pagi ini saya ke pasar tani di samping stadium Shah Alam, Selangor Darul Ehsan, tenda-tenda karnival warna warni menjadi ciri khasnya. Pada dasarnya penjualannya dibuat blok-blok antara pasar basah dan kering. Namanya pertanian disini kita bisa mendapatkan ubi, ketela, umbi talas, ikan segar, udang, limau, kangkung, sampai baju dan mainan anak-anak bahkan asuransi pun ditawarkan. 

Apakah tempatnya nyempil diluar kota, tidak pasar tani ini seperti disebutkan diatas adalah disamping stadium besar, dan berdampingan dengan satu hypermarket besar, Giant. Dan dbiasa di kawasan pemukiman memang disediakan tempat untuk berjualan para petani ini. Yang datang berjubel dan lihatlah dari yang datang semua memarkir kendaraanya sampai dimana-mana, tapi tetap tertib dan free parking dan tidak ada pungutan liar. 

Prasarana yang baik untuk menunjang perekonomian di pasar tani
Jika datang kemari, inilah wujud pemberdayaan petani, sungguh yang berjualan ini memang dirangsang oleh pihak kerajaan. Ada kisah lain, ketika saya berada di sebuah perkantoran di Cyberjaya, suatu kawasan bisnis untuk berbagai company asing sekelas Dell, AMD. Saya berjumpa seorang yang mengundurkan diri dari perusahaan ternama karena dia ingin berjualan di pasar petani. Ya tidak dipungkiri, pintu rejeki yang utama adalah berniaga.

Mengemasnya bagus karena disisi lain banyak kedai sajian khas melayu, sangat menyeronokkan begitulah orang tempatan menyebutnya. Dan disini Anda bisa merasakan bagaimana kita bertemu dengan penduduk lokal dari berbagai usia. Ramai.
Berbagai hidangan khas melayu tersedia
Pasar tani seperti ini mengingatkan masa kecil di desa-desa di Indonesia, sebenarnya pasar seperti ini ada juga. Namun untuk di kota lahan itu tergerus dengan mal-mal, dan harga yang tidak dikontrol, tidak ada standard harga yang membuat orang malas untuk berkunjung. 

Jika dua pihak pemerintah dan masyarakat berfokus pada pertanian kelas bawah, tentu membawa kemakmuran bersama.  Satu hal lagi adalah kebersihan, bagaimana orang mau makan disitu jika baunya menyengat dengan lumpur yang becek bekas sayuran busuk. 

Jumat, 04 Oktober 2013

Blusukan di Malaysia Part VI: Cinta dari Moskow & Taxi Driver


Berkunjung ke KBRI Kuala Lumpur sejenak seperti di Indonesia yang sebenarnya, nampak persis disebelah kanan gedung ada tempat tenda-tenda biru dan yang dijual pun bakso. Tak lepas juga tulisan 'Photo Copy' yang di Malaysia sendiri sebenarnya 'photostat' nampak terpampang di papan yang digantung-gantung. Lagi, sekian warga Indonesia menunggu kantor kedutaan buka selepas rehat siang di warung-warung tenda itu dengan segala bahasa daerahnya muncul dan berkumpul dari segala profesi.

Ini kali pertama saya ke KBRI Kuala Lumpur ada hal yang saya perlukan, memasuki ruang untuk ambil antrian terlihat betul-betul suatu culture kita. Apaan? Kagak bisa antri, itulah saya terheran-heran, saya sudah membuat antrian dibelakang orang tidak tahunya diserobot. Ini hanya masalah pagar, di depan naik taxi kita antri tapi begitu masuk rumah negeri sendiri hilang sudah. Tapi tak selamanya, ada warga Indonesia keturuanan dibelakang saya senyum melihat cara seperti ini dan dia tetap antri sampai saya mendapatkan nomor.

KBRI KL pelayanannya bagus, foto kopi disediakan secara gratis, tinggal bilang mau urus hal apa lalu kasih passport dan document lain mereka akan membuat salinan sesuai keperluan. Saya sekaligus mengantri 2 counter yang berbeda, dan cukup ramah dan friendly petugasnya. Seperti kenal sudah lama terlebih memang untuk satu counter yang saya tuju ini peetugasnya sangat dekat dengan teman-teman yang bekerja di bidang konsultan SAP. Belum lagi selesai, counter lain memanggil, saya pun minta ijin untuk ke counter lain dulu. Disini pun cukup sopan dan cepat, saya katakan bahwa passport asli sedang diproses di counter lain, petugas cukup mengerti dan tak lama proses selesai, namun karena sudah agak sore surat dari KBRI baru jadi besok. Tidak apa saya datang lagi.

Oh ya satu hal di KBRI KL ini tadinya saya bayangkan akan masuk ruang bersekat dan dijaga seperti ketika saya masuk ke Kedutaan Amerika, yang KBRI kita ini semua dikumpul dalam satu ruangan. Emang beda, yang disekat-sekat pasti banyak lawannya, yang tanpa sekat tentu lebih ramah banyak kawan. Begitulah!

Saya menuju pintu keluar dan duduk di bangku-bangku, yang teryata diluar masih ada counter lain yang cukup sibuk, beginilah urusan di KBRI KL yang tentu jumlah WNI banyak yang tinggal di negeri ini.

Ada orang yang saya yakin bukan orang Indonesia asli dia menyapa dengan bahasa Indonesia yang khas logat luar:

“Mohon maaf….bisa tolong kasih tahu bagaimana pergi ke airport dari sini”

Dengan senang hati saya buatkan route yang sebelumnya saya pun tanyakan apakah mau ke LCCT atau ke KLIA.

“Oh tentu, saya buatkan route yang paling pendek lagi murah…”

Dia pun senang dan tersenyum. Sambil saya mencari kertas yang saat itu kagak ada, akhirnya dengan meminta maaf saya memakai kertas bungkus selebaran yang diterbitkan KBRI.

“Ini routenya…. Hire taxi and ask driver to drop at Ampang Park station. It’s about 5 ringgit“

“Lepas tu…get off from train at KL Sentral station, exit terminal building and next…down stair to ride bus to LCCT”, sembari saya membuat route di kertas.

Kertas bergambar route itu pun disimpan. Akhirnya kami diskusi dan ternyata Ibu ini dari Moskow. Saat disebut Moskow saya mengajak diskusi tentang kenangan Soekarno di negeri tersebut. Diskusi berlanjut dia pun mengatakan kedekatan Indonesia dan Moskow, dan suami saya orang Indonesia itu adalah ‘buah cinta Indonesia-Moskow’, dia menyebut dengan istilah yang membuat saya tersenyum lebar.

Bahasanya cukup bagus, karena saat ini dia tinggal di Indonesia dan kedatangan ke Kuala Lumpur adalah untuk mengurus visanya di Indonesia setiap 6 bulan.

Malah dialah yang bertanya balik: “Tapi kamu orang Indonesia kan, bahasanya seperti orang sini, bahasa Malaysia”

Aih tobat memang kadang lingkungan membuat perubahan bahasa, ya dimana tempat saya harus menyesuaikan. Dulu waktu project di Riau karena saya suka bekerja dengan orang HR yang dari Padang saya pun sedikit fasih berbahasa Padang sampai suatu saat tukang durian dari Padang pun memberi harga khusus karena dikira saya orang padang asli.

Saya pun membalas: “Dimana tempat, kita harus meng-adjust culture…depends on country where we are staying”

Dari jawaban ini pembicaraan makin asik, nampak dia adalah orang yang bisa menyesuaikan culture. Dia menyetujui. Intinya dia menegaskan semakin banyak kita berjalan di tempat lain, kita akan menjadi lebih bijak, pandai menyesuaikan dan open minded.

Saya katakan: “Saya senang mencoba untuk berkunjung ke tempat atau negara yang tidak sesuai dengan agama dan culture negara saya”
 
Dia pun menerangkan: “Saya senang Indonesia, orangnya ramah….suka menolong”

Dan, lanjutnya: “Suka memberi senyum….”

“Kalau di Moscow orangnya muka selalu serius, kalau ada senyum berarti dia ada makna tersembunyi atau maksud tertentu”

Kami bercerita lama soal traveling, pahit getir perbedaan social dan akhirnya dia pun menyarankan: “Kenapa tidak dibuat buku pengalaman hidup kamu…”

Plak! Berasa diingatkan berapa kali oleh orang lain untuk membuat buku. Saya pun menjelaskan ke dia sebelumnya ada satu publishing di Indonesia menghubungi saya untuk dibuatkan buku dari gaya tulisan saya yang menurutnya khas & menarik.

Dia meminta saya untuk menuliskan website pribadi saya sambil membuka buku note dia. Ketika membuka note-nya ada lukisan draft, bergaya naturalis. Saya berhenti di halaman itu sebelum saya menorehkan alamat website ini di halaman lain.

“Ya saya suka melukis….ini adalah draft untuk cover buku seorang kawan”

Bukunya pun tentang perjalanan hidup yang ada senang, berliku dan susah tapi dengan ‘happy ending’, jelas dia sambil memberikan penjelasanan detail-detail bagian gambarnya ke saya.

Saya meminta ijin untuk pergi dahulu, dia menunggu untuk visanya yang sedang dalam proses, sapa terakhirnya: “Terima kasih….hati-hati ya…”

Hari kedua saya datang, seperti biasa arah balik dari route yang saya kirimkan Ibu dari Moskow, saya turun di Ampang Park station, keluar dan hire taxi.

“Indonesia embassy…” saya menyebut tujuan ke driver.

“Jam ni Encik…” saya berkeluh dengan sang driver yang memang KL itu sudah padat kendaraan. Jam (jem) adalah artinya macet dan biasa digunakan sebagai kata absorbsi di bahasa Malaysia dari bahasa Inggris.

“Ya nggak heran lagi…KL tuh jam, macet juga” jawabannya mencirikan dia dari orang Indonesia juga. Beberapa taxi driver dan juga orang MY suka menggunakan beberapa kata slang yang biasa kita pakai misal: ‘nggak’, ‘macet’, ‘cowok/cewek’, jika yang menaiki orang Indonesia.

“Eh..Encik dari mana semula”

“Saya orang Minang”, jawabnya.

Saya pun menyergah dengan bahasa padang yang dulu saya pelajari, dan akhirnya dia pun menyangka dari Minang juga karena selain sedikit bahasa minang saya tahu persis lokasi kampung halaman dia. 
Modal blusukan saat travel membuat detail kota Bukittinggi Sumatra sampai ke pedesaannya masih terekam bagus. Setidakya saya pernah datang 10 kali ke Bukittinngi. Mujurlah. Dan orang Minang seperti driver ini sudah mendapat IC Malaysia karena memang sejarahnya banyak orang dari Minang ke Malaysia sebagai satu kesatuan melayu.

Kini kita diskusi tentang Indonesia: 



“Disini macet masih bergerak…” , awal sang driver berdiskusi.

“Indonesia, Malaysia, Vietnam, Bangladesh, Philippine, India itu kotanya sama-samalah….”

“Saya ini tidak sekolah tapi saya sudah berkeliling negara-negara, dulu saya kerja kasar di kapal…lama di Africa malah”

“Betul saya putus sekolah…tapi saya boleh berpikirlah bagaimana membuat kota supaya tidak macet, saya masih punya pikir dan ingin hidup nyaman”

“Masa kota seperti Jakarta tidak ada MRT, itukan orang yang tidak bisa berpikir….”
 
Krisis mental sangat umum ditemukan pada para punggawa pemerintah.


“Rasuah (korupsi, red) disini juga ada, tapi bolehlah pemerintahannya berpikir untuk rakyatnya. Seperti takde nurani tu orang..”

Nadanya terbawa emosi, saya pun menyetujui pemikirannya. Saya merasakan betapa beratnya ketika saya naik KRL ke Depok, tidak ada pilihan memang jalanan macet tak bergerak, kereta penuh sesak panas lagi.  


Aih…saya melinang air mata. Memang saya senang memikirkan bangsa saya sendiri untuk maju. Setidaknya ingin memajukan attitude warga negeri saya sendiri, supaya berpikir maju dan open minded.

“Kenapa kau terdiam….”

Sesaat memang saya tak memberikan response, seperti tiba-tiba berhenti diskusi.

Saya jawab: “Saya berlinang Encik….terbawa emosi kesedihan negeri”.

Saya mengusap linangan air mata dengan sapu tangan, melintas di Jl Binjai yang memang sebelah kanan berdiri menara kembar nan jangkung dan sebelah kanan kiri jalan terlihat pedestrian yang bersih rapi dengan taman-taman indah.

“Itulah…rakyat negeri Anda mau kemana, saya pun masih merasa warga karena dulu dari sanalah…”
 
Kawasan taman kota yang bersepadu dengan bangunan modern di Kuala Lumpur

Saya sedih juga karena sang driver ini juga dulu orang Indonesia, dia masih berpikir, tidak acuh pada negeri asal muasalnya. Masih ada cinta.

Perjalanan pun usai, saya diberhentikan tepat di depan KBRI Kuala Lumpur yang ini adalah ibarat rumah sendiri di negeri sebelah. Sebenarnya saya mau meminta sang driver menunggu di depan KBRI untuk menghantar balik ke Ampang Park, namun saya memberikan ijin untuk meninggalkan lebih cepat karena ada warga Indonesia lain yang mau naik ketika saya keluar.

Saya memberikan senyum pada warga kita, saya berharap sang driver pun akan bercerita yang sama kepada penumpang itu.

Ketika saya memasuki gerbang KBRI, sang taxi memberikan klakson pelan sembari tangannya melambai. Indonesia, kita semua harus membangunnya, jiwa dan raga.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Blusukan di Malaysia Part VII: Perjalanan ‘ilegal’ ke Negeri Sendiri

Pagi hari saya mendarat di Tawau, seperti biasa walau saya tinggal di KL semua penumpang harus melalui imigrasi walau masih dalam satu negara. Passport pun di cop, sedikit ditanya mau berapa hari? Saya katakan semalam saja.

Bas mini adalah transportasi umum di Tawau Airport menuju kota

Saya keluar mencari bus airport yang memang unik bentuknya. Nasib baik saat menuju counter ticket terus ada bus, saya pun naik. Dan Hanya 2 orang saja yang naik. Selain itu ada 1 penumpang kecil yang rupanya anak sang driver. Saya memberikan minuman kotak ke dia, tanda persahabatan selama perjalanan.


Masjid Al Kautar terletak di tepian pesiaran dan pantai

Kota Tawau sangatlah kecil namun seperti umumnya prasarana di semua kota memang tertata rapi, saya acungi jempol untuk Kerajaan Malaysia yang membuat jalan, tempat ibadah, dan bangunan kota serta perumahan dengan terstruktur hampir di semua tempat.
Tawau adalah tujuan saya menghabiskan semua destinasi yang ada di Malaysia bagian timur, atau mudahnya semua bagian Malaysia di bagian atas Pulau Kalimantan. Eksplorasi tempat ini untuk memberikan gambaran sepenuhnya bagi saya sendiri tentang batas Indonesia-Malaysia dan culture yang ada, dan khusus ke Tawau ini ada satu hal unik yang saya akan pelajari disini yaitu kedekatannya dengan batas negara di Pulau Sebatik, pulau yang dalam berita beberapa tahun lalu saya selalu dengar nama pulau ini.


Pasar ikan di Tawau

Hari pertama saya habiskan untuk jalan di semua Kota Tawau bermula sarapan bagi di pasar ikan, dan berakhir malam hari di pasar malam. Cukup satu siang Anda bisa berkeliling ke semua kota. Banyak durian, duku, rambutan yang dijual sebagai buah local.

Culture disini mirip dengan di Indonesia, karena memang sebagian besar penduduk local keturunan melayu ini berasal dari orang Bugis. Bugis memang terkenal dengan explorernya, saya kagum dengan histori orang bugis ini. Semoga kalian Indonesian, mengenang begitu digdayanya orang bugis dalam menempuh ekplorasi laut yang sampai Singapura pun memberikan landmark tersendiri Bugis Junction. Selama saya berjalan banyak ditemui bahasa local yang saya tidak paham, ketika saya tanyakan memang itu bahasa Bugis.

Siang itu hari sabtu, saya ke counter tiket kapal ke Nunukan sambil menyodorkan passport, saya hanya adu nasib kalau masih ada saya jalan ke Nunukan, Indonesia. Dikabarkan ada tiket ke Nunukan namun kapal baru balik hari Senin, padahal saya Minggu siang sudah harus balik ke KL, ini tidak mungkin. Memang perjalanan kapal cepat ke Nunukan-Tawau tidak ada di hari Minggu. Urung sudah tapi nama Sebatik selalu terngiang, dan memang ketika duduk di tepian dermaga Tawau, pulau ini terlihat jelas. Bahkan sebelum pesawat mendarat, akan melintas di atas pulau ini.


Barang hasil alam dari Pulau Sebatik dibawa ke Tawau 


Saya pun ke dermaga menyatu dengan orang lokal, sembari mempelajari culture. Disini banyak hasil pertanian dibawa dari Pulau Sebatik dan begitu kapal balik akan membawa tabung gas dan juga jerigen berisi bahan bakar.


Tampak pulau dalam gambar adalah adalah Pulau Sebatik


Saya pun bercakap-cakap dengan calon penumpang yang mau ke arah Pulau Sebatik. Saya pun mengutarakan jika saya mau ke Pulau Sebatik tapi saya pun tak tahu Pulau Sebatik bagian mana yang saya akan tuju, ini gilanya! Bahaya atau tidak? Semua orang itu sudah ada tujuan, sedang saya tidak tahu mau ke mana bahkan tujuan itu apakah bagian Malaysia atau Indonesia.

Tahukan Anda, bahwa Pulau Sebatik adalah pulau yang terbagi menjadi 2 bagian bagian utara adalah dalam wilayah Malaysia dan bagian selatan adalah dalam wilayah Indonesia. Ini baru saya sadari setelah sekian tahun hidup di Indonesia. Bahkan terakhir kali saya tanyakan ke teman Indonesia yang sedang di KL mereka juga tidak tahu bahwa dalam Pulau Sebatik ada 2 negara didalamnya.


Karena pertemanan sesaat di dermaga itu saya mendapat tawaran:

  1. Dua orang pemuda yang benar-benar masih muda seusia SMU-lah menawarkan ke rumahnya di Pulau Sebatik, dia punya kapal motor sendiri. Dia datang ke Tawau untuk belanja kaos olah raga. Saya percaya dia baik, dia masih melambai-lambaikan tangan ketika kapal motornya sudah mendorong kapalnya meninggalkan dermaga. Saya masih ingat tawaran dia, dia mengajak ke rumahnya dia pelihara buaya katanya, saya bisa melihatnya nanti. Dia juga akan mengajak jalan-jalan serta memetik buah duku di ladangnya dan besok akan balik ke Tawau di pagi hari sekalian saya dihantar.
  2. Seorang Ibu dari bagian keluarga yang mau ke daerah Pulau Sebatik. Dia tidak paham kalau saya orang Indonesia karena logat saya yang sudah saya ‘adjust’. Dia malah mengatakan: “Dari semenanjung ke?”. Ya, semenanjung artinya West Malaysia seperti Kuala Lumpur. Dia punya usaha sawit, tawarannya adalah menginap di saudaranya bersama kami semua nanti. Kedatangan ke Sebatik adalah untuk mengunjungi hajatan pernikahan saudaranya. 
Kala itu sudah sore, saya membayangkan besok pukul 14.00 saya sudah harus balik ke KL melalui Tawau airport. Kalau tidak bisa balik bagaimana? Kedua tawaran tadi menjamin saya bisa balik, ada kapal yang bisa disewa.

Tapi tetap ini masuk ke negara mana saya belum tahu juga, akhirnya saya putuskan tidak mengambil keduanya. Ibu itu pun masih memastikan bahwa saya bisa mengejar pesawat besok pagi sampai detik akhir sebelum naik ke kapal. 

Sore itu juga, saya artinya menginap di Tawau. Pagi hari buta saya berniat ke dermaga lagi, karena semalaman saya pelajari jalan ke Sebatik. Kini saya dapat tawaran kapal kecil tapi cepat menuju Sebatik. Sebenarnya perjalanan ini gila saja, siang ini juga saya harus balik ke KL melalui Tawau. Kapal tidak terus berangkat tapi menunggu sampai penuh 4 orang, menunggulah saya. Saya tidak tahu juga ini bagian Indonesia atau Malaysia yang akan dituju yang penting naik saja memenuhi hasrat menjejakkan kaki di Pulau Sebatik. Dari bahasa yang diucapkan pun kurang paham, terdengar ada “Aur Kuning”, karena saya terimpact nama ini adalah tujuan di salah satu sudut Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Tapi satu hal yang saya ingat bagian dermaga yang milik Indonesia adalah Sungai Nyamuk. Saya pun memilih Sungai Nyamuk.

“Ada IC atau passport” kata nakoda kapalnya. 

Saya pun mengatakan ada, namun saya tahu kantor imigrasi itu ada di darat dan itu terletak disedikit jauh, tepatnya dekat pasar ikan. Dan kantor imigrasi ini tutup jika hari minggu. 

Saya sendiri tidak yakin bisa masuk ke Indonesia tanpa cap di passport, itu ilegal. Atau bisa berurusan dengan imigrasi Indonesia sendiri nanti ketika saya terlambat dan harus terbang melalui satu bandara di Kalimantan untuk balik ke KL. 


Boat meninggalkan Tawau menuju Pulau Sebatik
Pukul 08.15 pagi kapal berjalan, khawatir sekali waktunya tidak cukup. Saya memberikan passport di tengah laut, ternyata 2 orang penumpang lain adalah warga Tawau, dia menyodorkan IC saja. Agak ke tengah ada kapal milik Polis Malaysia, saya tidak akan memotret apa pun disini. Ini sudah standard traveler. Pembicaraan antar nakoda dan polis terjadi, tentu routine check. Passport dikembalikan dan saya check apakah ada cap atau tidak? Ternyata tidak ada, memang betul itu kan kantor kepolisian bukan imigrasi. 


Dermaga pelabuhan Sungai Nyamuk, Sebatik Indonesia
Saya masih tidak yakin bisa masuk ke Indonesia nanti, kapal terus berlabuh cepat. Anak buah kapal mencopot bendera Malaysia di kapal itu, dia masih sangat muda, dan memainkan bendera itu dengan mengibar-ngibarkan ke udara. Sedikit membuat saya tenang seperti perjalanan yang tadinya tegang. Bendera pun dililit dan diikat. Ini pertanda bahwa sudah memasuki kawasan batas, dan kini berada di perairan Indonesia. Tidak jauh ada dermaga sederhana, kapal berhenti dan nakoda menarik passport kami lagi untuk diberikan ke Polisi Indonesia. Tak lama ada pembicaraan dan kontak by telepon entah laporan kemana sang nakoda. Passport saya pun di kembalikan dan turun dan menuju dermaga di Sungai Nyamuk, Pulau Sebatik. 

Kantor pemeriksaan kedatangan dari Tawau di Sebatik Indonesia

Inilah di Indonesia, perjalanan itu ilegal atau tidak saya masih bertanya-tanya karena keduanya lewat pengawasan penjaga 2 negara. Dermaga ini cukup kecil, sangat kecil dan sederhana. Semua terbuat dari bahan kayu tidak ada yang permanen. Inilah pintu saudara-saudara kita di Pulau Sebatik untuk menuju negeri jiran. 

Laut yang sangat tenang di dermaga Sungai Nyamuk, Sebatik Indonesia
Kupandang Tawau dari dermaga itu, yang nampak bangunan jangkung apartment di tepi laut. Tapi inilah negeriku, pulau negeri ku. Pulau terluar yang berada di utara yang berbatas langsung negara lain. Terharu, bisa menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di pulau terluar batas negara dengan pandangan sekeliling air laut yang sangat tenang.

Saya berkunjung ke warung yang ada di dermaga itu, minum air mineral Aqua, kopi ABC, dan makan sop buntut (karena di Indonesia sebutannya jadi sop buntut, bukan sop ekor). Nampak di dermaga itu ada money changer berjalan, ada orang menawarkan penukaran MYR ke IDR atau sebaliknya. Petugas polis dan angkatan laut pun bersarapan pagi di warung itu, sekilas membicarakan penjagaan diperbatasan di tempat lain. 

Next artikel akan saya terbitkan cerita 3 jam pengalaman di Sebatik, Indonesia dimana termasuk pengalaman saya diinterogasi polisi Indonesia.

Versi lengkap blusukan di Malaysia Anda bisa layari di link berikut: Blusukan di Malaysia.

Sabtu, 18 Mei 2013

Blusukan di Malaysia Part V: Janganlah ‘lebay’ dalam Beragama


Tulisan ini sedikit dipengaruhi oleh kondisi per-partaipolitik-kan di Indonesia saat artikel ini ditulis, saya tidak membahas apa yang terjadi di Indonesia namun menganalisa dan belajar sesuatu yang saya dapat ketika blusukan spiritual di Malaysia. 

Tempat ibadah di tepi jalan
Setiap pagi saya keluar dari condo tempat saya tinggal pada jam dan menit yang tidak banyak berbeda. Tentu security guard adalah orang yang selalu pertama kali saya sapa untuk keluar dari condo, mereka dari negeri tetangga lain dari Malaysia rata-rata dari sekitaran Pakistan, Nepal. Setelah itu saya akan melewati sebuah tempat dari show room besar mobil buatan Jepang. Test drive dari mobil versi baru pun pernah saya coba, ya namanya juga bertetangga dengan condo tempat saya tinggal, para petugas dari keturunan Bangladesh pun sigap dan penuh respect ketika saya mencobanya, masalahnya mencobanya tidak hanya sekali kadang tiap hari sabtu minggu dengan mobil yang berbeda. Dia adalah teman-teman saya, tetangga saya tepatnya. Hidup di sini berbeda dengan kondisi di Depok, dimana saya tinggal dalam cluster terbuka; tetangga, anak kecil, kucing dan kelinci bisa bebas main ke taman rumah. Asik pokoknya. Ketika tinggal di condo saya kehilangan segalanya, bak tiada tempat untuk sosialisasi, masuk lift lalu keluar dan masing-masing menuju unit terus dikunci itupun dikunci 2 kali, yang pertama kunci utama macam gerbang lalu kedua kunci pintu. Astaga, mana ada orang macam burung dara!

Pergi kerja pagi seperti hari-hari biasa, namun tiap pagi saya selalu menghisap asap hio, ya tiap pagi di pojok jalan pasti ada orang yang sedang sembahyang dengan dupa dan memberikan sedikit ‘sesajen’ makanan atau minuman, mohon dibenarkan atas istilah ‘sesajen’ karena saya tidak tahu apa itu sebenarnya. Saya pun tetap menyapa orang-orang yang antri buat sembahyang, awalnya dari senyum lalu kini saya dengan senang berucap “Hi morning….”. Kadang pun mereka duluan yang menyapa saya…dengan senyum yang segar dari wajah yang jauh lebih putih daripada kulit saya, dari para keturunan Tionghoa ini. Mereka kenal sangat dengan saya, ketika masih jauh pun kadang ada yang melambaikan tangan, saya kadang membalasnya terlalu lebay juga sehingga pada suatu saat ada taksi berhenti karena lambaian itu.

Apa yang saya pikirkan saat itu bukan pada mereka yang sembahyang, saya terpikir pada pemerintahan dan warga negeri dimana saya tinggal saat ini. Mungkin saja jika bangunan tempat sembahyang tadi ada di pojok sebuah jalan di Indonesia sudah pasti akan dirobohkan, mungkin pun ditendang-tendang atau minta dipindahkan ke jauh di sudut tempat yang tidak mudah dilihat orang. Padahal di daerah saya tinggal ini adalah bagian dari Malaysia yang hukum Islamnya ketat, demikian juga penuturan para warga dan teman-teman kantor client tempat saya mengerjakan project. Bahkan dalam gerai dan kedai tidak akan ditemui minuman bir kadar rendah alkoholnya sekalipun. Dilarang dijual, itu aturannya.   

Kematangan dan sifat terbukanya warga M’sia dalam beragama menurut saya adalah hal yang indah. Memang tidak sedikit tempat-tempat ibadah didirikan selain tempat ibadah muslim, dibangun macam untuk keturuan India, Cina dan tentu Melayu sendiri. Dalam sehari-harinya saya pun merasakan indah dan teman saya yang keturuan India yang masih memakai titik merah di dahinya pernah mengingatkan saya dalam suatu sarapan pagi bersama: “Hi Wahyu, you belum baca bismilah kan?” Tentu diikuti gurauan dari teman-teman lain.
  
Di negeri kita sering sekali terjadi konflik agama, karena kita terlalu fanatik terhadap agama dan ras kita sendiri, membatasi pergaulan karena perbedaan, dan tulisan ini adalah sudut pandang saya tidak mewakili siapa pun, bahkan dalam kehidupan beragama pun kita lebih sering ditanamkan sisi yang dianggap jelek di agama lain. Kita sibuk mengurusi dan menelusuri apa yang bisa menjatuhkan agama lain tapi lupa apa yang semestinya dikerjakan oleh agamanya sendiri. Dan banyak perwakilan yang mengatasnamakan agama tapi bertindak sangat anarkis, di jalan bisa menutup jalur dengan bebas bahkan sebagian besar naik motor tanpa helm.


  

Dan yang hebat lagi ada semacam perlombaan mengumpulkan pemeluk, mungkin ingin keliatan besar dan menyatu, sehingga macam stadion olah raga terbesar di Indonesia pun dibuat untuk berkumpul namun mereka lupa bahwa stadium itu adalah tempat berolah raga yang seharusnya tanpa memandang suku dan agama, mereka berlatih bersama untuk menuai medali emas di perlombaan besar dunia untuk Indonesia. Kita lupa itu, lebih lebay pada mendatangkan pembicara yang keliatan hebat atau sekadar mengibarkan bendera suatu organisasi biar keliatan banyak dan menyatu. Kita lupa pada sesuatu yang harusnya berwawasan kebangsaan, menyatukan satu negeri dengan segala perbedaanya. Kita lupa jika kita hanya bekerja sendiri tidak akan dicapai kemajuan bangsa. Kita pun terlalu naïf, tidak pernah melakukan benchmarking, tapi mudahnya menganggap jelek sesuatu di kaum lain.

Ketika bertemu sesama agama kita selalu diajak berargu pada sesuatu yang berbeda dalam agama masing-masing, konyol tentunya, namanya juga ajaran tidak usah ditanyakan pun pasti berbeda, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Tapi sejak kecil kita banyak dihadapkan pada yang demikian, orang yang lebih tua masih ada yang menitipkan hal demikian di hati kaum muda, harusnya itu diakhiri dan ditanamkan bahwa agama itu berbeda ajaran, dari namanya saja sudah berbeda pasti ajarannya berbeda.


Bagiku di negeriku tidak perlu dilihat banyaknya tempat ibadah, dan tidak perlu ditotal berdasar populasi umat, namun yang diperlukan seberapa besar umat agama masing-masing menjalankan agamanya, disitu ada nama Tuhan, Tuhan tidak pernah menyuruh melukai makhluknya, sekalipun kepada hewan dan tumbuhan. Bacalah kitab murni ajaran Tuhan. Intinya kita berusaha menjalankan agama secara sempurna, bukan menjalankan agama secara lebay, sehingga pemerintahan negeri kita yakin bisa maju karena agama bukan kedok lagi, nilai spiritualnya akan memutar dan mengarahkan hati pada kebaikkan. Maka janganlah kamu beragama secara ‘lebay’.