Jumat, 08 Februari 2008

LCCT - KL Sentral - Darby Park


Perjalanan ke Kuala Lumpur untuk versi low cost kita bisa pakai AirAsia (ehm harusnya Indonesia Air Asia). Penerbangan murah karena ya bahan bakar yang dipakai adalah produk Petronas, jadi pengisian bahan bakar tidak dilakukan di Indonesia tapi saat pesawat berada di Malaysia. Selain itu namanya juga murah maka tidak disediakan makan minum (kecuali beli) selama perjalanan.

Dikala anda dinas di KL atau di kota-kota yang dijamahi AirAsia, ternyata anda mesti balik mendadak sedangkan ticket dari kantor belum jatuh tempo misalnya, penerbangan ini bisa menjadi pilihan . Pun bagi para model pelancong backpacker tentu cocok banget dengan low cost carrier seperti ini. Yang penting sampai dan harga hemat, dan selamat.
Oh ya selepas dari Bandara Soekarno Hatta, pakai terminal 2D kita langsung check-in dan isi form yang sudah disiapkan. Jangan lupa bayar fiskal, nyesel sebenarnya lho bayar fiskal itu. Karena memang entah alasan apa di Indonesia masih menerapkan fiskal. Aneh jaman sekarang orang mau keluar negeri masih dibebani seperti itu. Harusnya dikasih kebebasan fiskal sehingga makin banyak orang Indonesia yang keluar negeri, mereka akan banyak pengalaman di negara orang lain, yang akhirnya akan membawa kemajuan negeri ini. Toh Pak Presiden SBY juga mengatakan bahwa aliran dana dari fiskal tidak jelas. Ayo hapuskan fiskal....!! (Dan syukurlah sejak ada kartu NPWP kita akhirnya bisa bebas fiskal, update Red)
Oh ya prends...waktu berangkat Jumat pagi, tanggal 1 Feb 2008, Jakarta hujan deras, so pagi itu banyak pesawat yang delay. Pesawat yang saya tumpangi sempat berhenti lama sebelum masuk runway.Deg-degan juga lihat hujan angin yang sempat aku liat dari sisi samping badan pesawat.


Wusssh..setelah nunggu 15 menitan pesawat take off, dan 2 jam kemudian sampai LCCT Kuala Lumpur. Bandara ini tentu jauh lebih kecil dari KLIA, ya pastilah. Namun demikian sangat bersih, kalau dibanding sama bandara A. Yani Semarang tentu lebih keren LCCT. Jadi walau bandara low cost carrier tapi sangat bersih dan rapi serta lengkap fasilitas. Pokoknya ya bersih gitulah. Waktu itu aku teringat sama bandara M. Toha Jambi, yang super kecil dan kurang bersih. Pandangan waktu mendarat mirip-mirip kalau mau mendarat di Sutan Syarif Kasim II di Pekanbaru, banyak pohon sawit yang mirip karpet kalau dilihat dari udara.

Namanya bandara LCC jadi waktu turun tidak disediakan garbarata, turun pakai tangga pesawat dan jalan kaki. Satu dua, satu dua, jalan pagi bikin sehat. Nah jangan heran kalau di Indonesia hampir semua petugas adalah orang pribumi asli, kalau di Malaysia memang beragam. Jadi kita akan berpapasan dengan petugas yang parasnya bukan paras melayu. Banyak orang India, Bangladesh yang menjadi petugas. Sebelum turun pesawat sudah di-announce kalau tidak boleh ambil gambar, hmm tapi benar apa tidak ya, kan sebenarnya boleh photo-photo di dalam bandara.


Lalu biasa mesti antri untuk check keimigrasian sebelum keluar dari bandara. Biasa kita ditanya singkat mengenai maksud kedatangan kita. Paling gampang sih bilang "Holiday" saja. Lalu kalau ada saudara yang mau dikunjungi kasih tahu saja alamatnya di apartement X atau dimana gitulah, itu pun kalau ditanya.


Akses LCCT ke KL Sentral
Paling gampang keluar dari LCCT menuju KL Sentral adalah dengan bus, kalau keburu ya pakai taksi. Ada 2 jenis bus, jurusannya sama keduanya, cuma yang satu harganya RM 9 (SkyBus, warna merah) dan Aerobus LCCT dengan RM 8 (warna kuning).


Aerobus LCCT
 Ada tips untuk hemat, jika anda mau balik lagi ke LCCT (misal waktu mau pulang lagi nanti) bisa beli tiket pulang pergi sekalian dengan SkyBus, dan anda akan hemat. Tiket bisa dibeli di depan Cafe Been . Tiket berlaku 1 bulan. Kalau tidak mau pulang pergi, tiket bisa langsung dibeli saat mau naik bus. Ada petugas di depan pintu bus, ya macam shutle bus BSD yang dari Blok M gitulah.






Adakah bus dari LCCT ke KLIA?


Bersyukurlah, jika anda mau menuju LCCT ke KLIA atau sebaliknya sudah tersedia bus yang siap menghantar anda. Tempat pemberhentiannya sama dengan bus yang menujua KL Sentral. Anda hanya perlu berjalan ke arah kiri sesaat setelah keluar dari bandara LCCT. Nama busnya Airport Liner.
Layanan LCCT KLIA


Perjalanan dari LCCT ke KL Sentral kurang lebih 1 jam, jalanya sangat bagus dan lancar. KL Sentral adalah titik pertemuan untuk menuju kemanapun kita pergi, disitu menyatu antara kereta LRT, kereta express KLIA dan jalur bus. Nah abis turun dari SkyBus, kalau mau naik LRT kita naik ke atas, bisa pakai lift atau eskalator. Disini situasinya rada crowded, ramai orang lalu lalang. Ya namanya terminal. Tapi tidak ada pengasonglah. Begitu naik ke stesen (stasiun) kita tinggal pilih mau menuju kemana, disitu cukup jelas petunjuknya. Jangan takut, kalau bingung nanya saja sama petugas informasi yang beradaa persis ditengah stesen. Bahasanya bisa 3: Melayu, English dan Mandarin. Kalau susah pakai Indonesia juga paham kok.




Situasi KL Sentral

Jika anda Oh ya aku sempatkan mampir ke tandas (toilet) dulu, disini cukup bersih toiletnya dibanding stasiun Gambir dan tidak bayar:-). Aku beli ticket, kala itu sih menuju ke KLCC, harga keretanya RM 1.60. Sampai di KLCC kurang lebih 15 menit. Jangan lupa saat memasukkan ticket kita mesti mengambil lagi ticket tersebut, karena dipakai lagi untuk keluar di stesen berikutnya. Abis keluar aku menuju ke Masjid Assyakirin, oh ya istilah masjid lebih dikenal dengan surau. Di surau ini, Om Rizqal sudah menunggu. Wah sudah sekian lama tidak ketemu, ketemu lagi di negeri orang, nostalgia terakhir sih di Siak & Perawang, Riau.


Di sebelah kanan dari pintu masuk KL Sentral (mesti jalan sedikit) ada pusat informasi pariwisata yang sangat representatif, disitu kita sudah bisa mendapatkan guide berupa leaflet yang cukup untuk menuju tujuan wisata.

Ikut sholat jumat, khutbahnya pakai engslih tapi di projector displaynya pakai bahasa melayu. Mesjid Assyakirin tepat berada di kompleks taman Petronas, cukup repesentatif dikelilingi taman hijau. Abis sholat tidak biasanya aku melihat antrian orang berdiri, kirain antri ambil sendal, ternyata bukan, mereka antri bayar zakat. Hebat, dalam batinku. Semoga kita bisa menirunya ya...! Untuk yang muslim, saya sarankan untuk berkunjung ke masjid ini selain relatif dekat dengan Petronas kita bisa merasakan nuasanya religius vs technology, di dalam masjid kita masih bisa menerawang ke ujung Petronas dan desain masjidnya modern dan full AC. Masjidnya terdiri dari 3 bagian: ruang utama, ruang bawah, dan ruang lepas bagian teras.

Habis itu aku ke Darby Park Apartment (www.pnbdarbypark.com), jalan kaki menyusuri taman masjid, relatif deket dan enak sekali cuaca waktu itu, mendung saja tidak hujan.  Sampai di Darby Park 10 menit kali ya, jalan pelan. Byuhhh...istirahat dulu.
Posting Komentar