Sabtu, 24 Mei 2008

Gempa Bumi Yogyakarta 27 Mei 2006; Kehikmahan Hidup

URL: http://wahyuhandoko.blogspot.com/
Kabar aktifitas Merapi di berbagai media membuat saya untuk melihat secara langsung. Kebetulan bertepatan dengan liburan panjang tanggal 25~28 Mei 2006.

Malam itu (26/05 22:35) kami sudah sampai di Ketep, biasa disebut Ketep Pass, salah satu pos pengamatan Merapi dan sekaligus tempat wisata pada hari-hari biasa.

Di Ketep terdapat sebuah bangunan bunker, volcano theatre dan fasilitas lain untuk pengamatan Merapi. Udara malam sangat cerah, bintang bertaburan. Kami menuju lapangan terbuka yang tersedia di atap bangunan Ketep, di sini kita bisa melihat bebas kemanapun tanpa halangan.

Selepas capai hilang, kami menuju sebuah warung kecil di samping bawah bangunan Ketep. Di sini rupanya sudah banyak tamu berdatangan, kalau dilihat dari platnya ada yang dari Jakarta, Bandung dan Serang, Banten.

Kami memesan mie instant sambil terus melihat Merapi, karena sejak kami datang belum menampakkan aktifitas yang berarti. Saudara-saudara saya rupanya tidur lelap kecapekan dan suhu dingin mendukung untuk istirahat. Saya tetap mengamati Merapi.

Dan akhirnya setelah sekitar jam 1 pagi, saya melihat cahaya merah di puncak. Bukan main indahnya, saya senang sekali. Lelehan lava terjadi berulang.

Malam itu dari arah lembah, terdengar jelas sekali suara alunan gendhing jawa, apakah itu ritual Merapi atau bukan saya tidak tahu. Tapi dari alunan syairnya saya bisa menangkap sebagian, kalau itu semacam pujian alam. Syairnya dalam Bahasa Jawa kromo inggil.





Saya tidak mau kehilangan momen tersebut, tapi badan tidak tahan untuk duduk terus. Saya rebahan dengan pandangan tetap ke arah Merapi. Setiap ada lelehan lava saya selalu bangun untuk melihat secara detail. Akhirnya saya terlelap menjelang pagi.

Alarm handphone berbunyi tanda saya mesti solat Subuh. Tapi dingin sekali, membuat saya memasang selimut kembali untuk sesaat. Saya kuatkan untuk melawan dingin pagi itu dan maaf seperti biasa saya pengen buang hajat. Saya menuju kamar kecil di bangunan Ketep tetapi terkunci semua.




Sambil mencari kamar kecil saya mengambil gambar Merapi yang sangat anggun pagi itu. Indah dengan sapuan kabut tipis dan asap sulfur yang ada di puncak.


Putar kesana kemari di sekitar ladang petani, akhirnya saya memutuskan untuk buang air kecil di tempat yang ‘aman’ karena saya tidak menemukan kamar kecil lain. Untung embun pagi banyak menempel di denaunan.

Salam Terakhir
Saya mengambil air wudlu dan sholat subuh di mushola yang sejajar dengan bunker. Saya sempatkan berdzikir, setidaknya saya mengucapkan banyak syukur karena sudah bisa melihat lava secara langsung. Saya melipat sarung dan keluar mushola. Tepat sesaat keluar itulah, ada goncangan.

Pertamanya saya tidak begitu kaget dan panik, karena saya kira itulah yang disebut gempa aktifitas Merapi. Goncangan makin membesar, saya susah sekali untuk melangkah dan berjalan. Saya melihat mobil-mobil yang diparkir bergerak keras sekali. Orang-orang berlarian tidak tentu arahnya. Kadang mereka bertabrakan satu sama lain. Saya tetap berusaha tenang dan tetap di tempat.

Saat itulah saya melihat sebuah warung bergoncang ke kanan ke kiri dengan genteng berguguran. Saya mulai merasa ngeri sekali ketika bangunan Ketep yang besar dan sekokoh itu, mengeluarkan suara gemeretak. Keras, keras sekali. Entah daun pintu atau apa terdengar suara benturan keras dari dalam gedung. Orang-orang sebagian besar menatap Merapi karena saya kira juga saatnya Merapi meletus. Dalam benakku pagi itu adalah salam sholat shubuhku yang terakhir.

Nama Tuhan
Saat itulah saya berkali-kali mengucap Subhanallah…saya menangis. Kulihat serombongan keluarga berkumpul dan berpelukan. Tapi ada yang luar biasa, saat gempa terjadi ada orang yang mengumandangkan adzan dengan tegar. Air mata semakin tidak bisa saya tahan.


Disisi kanan saya berdiri kulihat botol-botol minuman berserakan. Ada seorang Ibu teriak histeris sambil menyandar ke dinding tanah sambil terus berteriak.

Saya melihat tepat di depanku seorang anak lelaki muda terjatuh. Juga seorang Bapak yang berpegang kuat-kuat ke pintu mobil menahan goncangan.

Jalan Runtuh
Ditengah kepanikan orang berlarian, ternyata dinding jalan yang menghubungkan jalur Ketep ke Muntilan runtuh tiba-tiba, sehingga jalan tidak bisa dilalui. Ada sebuah motor ringsek tertimpa tanah dan batuan.
















Rumah Roboh
Tak jauh ada dua rumah roboh bersamaan, untungnya penduduk di Ketep tidaklah padat.
Setelah gempa usai saya mendatangi rumah ini. Terlihat 4 buah sepeda motor tertimbun reruntuhan puing sudah dikeluarkan. Saya sempatkan masuk melihat sisa-sia bangunan yang tinggal. Dari dapurnya terlihat bahwa pemilik ini sedang memasak untuk makan pagi, ada sisa api yang sudah dipadamkan. Terlihat pula ada makanan berserakan didapurnya bekas kejatuhan benda-benda. Untungnya sapi milik penduduk ini sudah dikeluarkan dari kandang sehingga luput dari korban gempa.


Sapi
Sesaat gempa usai dalam situasi yang masih panik, Saya mendengar suara sapi. Suaranya tidak sama dengan suara sapi keadaan normal. Suara lebih panjang dan bersahutan. Yang kutangkap adalah suara memelas. Suaranya benar-benar menyayat, ditengah kesunyian pagi lembah Merapi. Saya juga melihat burung-burung beterbangan tidak tentu arah.


Merapi Lebih Aktif
Orang-orang mulai tenang, kulihat wajah tegang dan bersembab air mata. Saat itu semua orang berkumpul di pagar parkir, semua menatap Merapi. Saya mencari saudaraku yang berpisah. Saya lihat tempat warung kami menginap berserakan barang dagangannya. Saya terus mengamati Merapi detik demi detik dari warung tersebut. Saya mengirimkan pesan pendek, dan saling berkomunikasi dengan teman-teman. Saya pikir hanya di Merapi terjadi gempa. Setelah ada pesan SMS balasan ternyata itu terjadi di laut sebelah selatan Yogyakarta sejauh 37 Km dengan kekuatan 5.9 SR. Komunikasi sempat putus, saya tidak bisa kontak dengan orang-orang diluar Ketep. Setelah ada info dari saudara dan teman, ternyata tidak hanya di Yogya tetapi hampir semua Jawa Tengah bagian selatan, bahkan sampai Kudus dan Madiun.

Gambar berikut adalah aktifitas Merapi sesaat setelah gempa terjadi.

Kelihatan Merapi mengeluarkan asap tebal warna coklat, merah dan kehitaman seusai gempa. Orang-orang di Ketep semula menyangka gempa terjadi karena asap tebal tadi. Asap membubung tinggi, dan semakin melebar. Tak lama kemudian di Ketep terjadi hujan abu agak tebal.

Kesiapan Penduduk
Penduduk rata-rata sudah menyiapkan masker, termasuk anak-anak. Saya membuka singlet
untuk dijadikan masker darurat. Bau sulfur terasa menusuk hidung. Pemilik warung meninggalkan warung untuk memeriksa rumah mereka, saya pun beranjak untuk melihat sisi lain. Saya mendatangi rumah yang roboh, tidak ada korban jiwa.

Mereka diungsikan. Kulihat orang berbondong mengangkut barang mereka. Tak lama ada pejabat dan ada 1 mobil rescue datang membantu.


Merapi: mendidik kami……….
Banyak hal yang kami dapat dari kejadian ini...
Tarian Alam yang luar biasa…
Awal Malam yang sangat indah
Tengah Malam yang spectakuler…
dan Pagi Subuh yang membuat tawadhu.


Kami melanjutkan perjalanan ke arah Kopeng karena jalur masuk tertutup reruntuhan tanah, ada isu terjadi gempa lagi. Hampir di setiap jalan yang kami lalui terlihat beberapa bangunan runtuh. Kami melaju dan kami tunaikan solat sunah di sebuah mesjid di daerah Muntilan.

Ketep, Magelang 26.05.2006
Wahyu Handoko


Note:
Tulisan ini pernah saya publikasikan dalam format pdf, dan terima kasih banyak atas feed back yang saya terima. Saya publikasikan kembali untuk mengenang gempa Yogya dan adalah sebagai pengingat untuk kehidupan pribadi saya
.