Rabu, 01 Oktober 2008

Antara Ironi dan Hikmah di Malam Kemenangan

Puasa terakhir di ramadhan tahun 1429 Hijriah ini, saya masih di Jakarta. Memang saya berniat sejak awal untuk pulang pada hari-H sore harinya, selain bermaksud silaturahim saudara di Jakarta juga ingin menghabiskan ramadhan di masjid-masjid Jakarta terutama di Istiqlal. Alhamdulillah banyak teman yang saya kira luar biasa atas share perjalanan spiritual hidupnya. Sebut saja Pak Bambang, salah satu pegawai bank besar di Indonesia, pertama kali ketemu saat makan di Juanda. Berawal dari sapa, cerita sekolah dan jurusan lalu cerita kerjanya di Jambi yang kebetulan pernah datang ke PT Lontar Papyrus di Tebing Tinggi dimana salah satu tempat project saya di kantor lama. Saya dan Bapak setengah baya ini cerita tentang spiritual hidupnya. Intinya bagaimana konsep keyakinan, dimana Bapak ini dulunya kebetulan bukan muslim, walaupun begitu saya dan Bapak ini sama-sama bahwa memandang perbedaan soal SARA ini bukanlah suatu perbedaan. Konsepnya, bahwa manusia ini diciptakan dalam berbagai suku dan agama tetapi untuk saling mengenal dan mengetahui. Dan masih banyak lagi, bahkan saya sangat sulit untuk bercerita dalam bentuk tulisan, sulit untuk dituliskan terkecuali ikut atau ada kemiripan soal pengalaman spiritual yang pernah dilalui. Wahh.. luar biasa!
Saya ikut takbiran sampai Isya tiba, dan saya pulang menuju Pramuka, saya berniat makan di es teler 77 di Gramedia Matraman, tapi ternyata tutup. Walhasil makan sate padang dan bakso di seberang jalan. Rupanya jalan dimana-mana secara bersamaan sudah banyak konvoi takbiran. Semua macet. Saya jalan kaki sambil menikmati suasana takbiran malam itu, sedikit tersendat arus lalulintas.

Apakah Takbir atau 'bertakbir-takbiran'?
Sebenarnya kalau saya amati konvoi tersebut bukan takbir walau ada beberapa yang benar-benar takbir, tapi jarang. Yang terdengar takbir adalah suara-suara dari masjid sekitar jalan raya. Jujur saya sangat miris dengan konvoi kendaraan yang 'bertakbir-takbiran' ini. Saya sempatkan naik di jembatan penyeberangan tepat di BCA Matraman. Saya amati konvoi yang lewat. Kemirisan makin menjadi, sebagian hanya teriak-teriak, saling sapa teman-teman yang sama-sama naik mobil bak terbuka, sering mereka juga naik ke atap kendaraan. Dan hanya teriak-teriak tidak jelas, yakin bukan takbir. Bahkan saya dengan jelas menyaksikan ada truk yang menyanyikan lagu pop yang sedang hits, ada yang menyanyikan lagu jingle suatu klub sepakbola dan lengkap dengan kibar bendera klub, bahkan ada satu truk yang berkibar-kibar dengan bendera partai. Saya melanjutkan jalan kaki, ada beberapa yang menyalakan kembang api langsung dari atas kendaraan, dan ada tidak sedikit ditemui banyak pemuda-pemudi yang berpakaian tidak senonoh. Subhanallah...! Note: ternyata benar, berita soal konvoi 'bertakbir-takbiran' ini dilangsir di TV dalam news yang saya saksikan sambil menulis artikel ini. Semoga bagi kita semua, tidak menilai bahwa 'bertakbir-takbiran' adalah ajaran asli Islam. Saya yakin Islam tidak mengajarkan demikian. Islam mengajarkan kelembutan dalam menyebut nama Sang Khalik (Pencipta). Hanya sayang acara 'bertakbir-takbiran' ini tidak dikelola dengan baik dan hanya sekadar acara yang dianggap hura-hura oleh sebagian pemuda-pemudi metropolitan.

Seni dan Benar-benar Takbir
Tepat selepas dari Pasar Genjing, Pramuka, saya temukan suatu takbiran yang benar-benar takbir. Walau dengan iringan musik akustik, suara takbir sangat jelas. Saya ingat dengan acara dialog di Metro TV bahwa Islam di Indonesia itu mengadop seni-seni daerah dimana Islam diajarkan. Saya kira itu bagus, walau sebagian ada yang menolak. Misal bangunan Masjid Kudus mengadop bangunan gaya Hindu yang kebetulan memang saat itu Kota Kudus banyak penganut hindu. Analogi sama diatas, takbiran di RW 07 Rawasari ini diiringi dengan berbagai alat musik lengkap dengan sound system dan dekorasi ketupat, tentu sentuhan musik timur tengahnya sangat terasa. Layar lebar dengan sorotan projector dipasang di sudut kanan depan, sehingga orang yang berlalu dari kejauhan bisa menyaksikan. Sangat kreatif dan menarik. Banyak para peserta takbiran di jalan berhenti sejenak untuk melihat, harusnya mereka malu bagi yang tidak senonoh 'bertakbir-takbiran'.

Duafa dan Takbir
Malam itu sepanjang jalan Pramuka saya cermati pula para kaum duafa seperti pemulung, penarik gerobak, dan beberapa penyapu jalan. Saya sangat tersentuh dengan mereka malam itu. Disaat orang sedang meriah merayakan takbiran, mereka tetap memulung. Sebagian duduk-duduk ditepi jalan dengan pandangan hampa menatap truk-truk konvoi. Ada juga yang berebah diteras toko yang cukup dekil sambi memandang jalan yang saat itu macet. Itulah Jakarta. Antara 'bertakbir-takbiran' yang norak, ada juga yang benar takbir dengan spiritualnya, dan ada pula yang tetap memulung dengan nasib yang sama meskipun besok hari raya.



Namun tidak bagi Pak Murtono, saya bertemu dan berbicara dengan penyapu jalanan ini. Bapak dan temannya ini biasa menyapu jalan mulai pukul 23:00 malam, namun malam ini dia tidak bisa bertugas karena banyaknya kendaran yang lalu lalang. Dia hanya duduk disamping jalan, sambil melihat konvoi. Saya sangat menghargai kerjaan Bapak ini, makanya saya sempatkan untuk menggobrol soal kerjaanya. Disaat Bapak ini duduk ada juga dari sekian mobil konvoi menurunkan kecepatannya dan seorang pemuda berteria "Pak,...Pak...ini ada sedekah" sambil pemuda itu mengulurkan tangannya disertai uluran tangan Pak Murtono dan temannya untuk menyambut amplop. Ya Jakarta itu bisa hitam dan bisa putih, tergantung diri kita sendiri memaknainya. Saya berpamitan dengan Pak Murtono, menyebrang jalan untuk pulang.

Tepat diseberang jalan yang lain ada pemulung yang sudah bersiap tidur, dan gerobaknya dibiarkan tergolek dibibir jalan. Kontras sekali pandangan gerobak ini dengan padatnya lalu lintas malam itu yang sangat padat dengan hingar bingar malam kemenangan. Saya sempatkan ada mobil kijang menepi dan memberikan bungkusan, betapa saya saksikan bahasa tubuh sang pemulung yang berterimakasih secara dalam. Kembali terbukti bahwa ada yang benar-benar hanya 'bertakbir-takbiran' dan yang takbir beneran dengan tidak menyuarakan suaranya tetapi dengan aksi yang nyata. Maha suci Allah, semoga kita menjadi orang yang bisa merasakan dan berbuat seperti ini. Saat itulah saya benar-benar terpicu dan beraksi untuk duafa lainnya.
Tidaklah baju baru, cat rumah yang indah, kue yang enak, buah yang segar, kumpul-kumpul dengan saudara dengan acara meriah, ataupun ucapan sms atau email ke kolega, tetapi cukup simple saksikanlah hal-hal seperti duafa ini dan berbuatlah.

Seluruh alam bertakbir, bertahmid,dan bertahlil. Selamat Iedul Fitri 1 Syawal 1429H, maaf lahir dan batin. Semoga Allah mempertemukan di ramadhan mendatang.


Source: http://wahyuhandoko.blogspot.com/