Sabtu, 04 Juli 2009

Arah kiblat masjid di Indonesia mestinya ke Singapura

URL: http://wahyuhandoko.blogspot.com
Mungkin pernah anda berpikir hidup di negeri tetangga, Singapura, akan jauh dari yang namanya masjid. Susah ditemukan dimana letaknya masjid itu.Masjid Sultan SingaporeJujur saja, tidaklah demikian.

Memang tidak sebanyak masjid di Indonesia yang tiap sudut gang, sudut jalan, sudut pasar, bahkan ditempat bensin sekalipun mudah didapatkan masjid. Masjid di Singapura tertelak di beberapa tempat dan ter-organise dengan baik di bawah MUIS, Islamic Religious Council of Singapore.
Tapi soal kebersihan dan tata letak bangunan masjid-masjid di Singapura jauh sekali dibanding di Indonesia yang notabene mayoritas penganut Islam ini. Memang banyak sekali masjid di negeri kita tapi sayang, dari sisi kebersihan sebenernya dapat raport merah. Tata letaknya pun asal saja, ada memang beberapa masjid yang mempunyai ruang yang cukup luas tapi tetap saja soal kebersihan dan kerapihan masih seadanya saja.

Dan maaf, meskipun saya muslim, saya kritik terhadap pembangunan masjid yang kadang mengerahkan pemungut sumbangan yang bertebaran di jalan-jalan. Selain macet, menimbulkan kesan tidak profesional. Banyak memang kaum muslim negeri kita bersemangat membangun masjid, tapi itu hanya semangat saja, soal managementnya masih kurang.

Padahal masjid seharusnya tidak dibangun berdasarkan kemewahan, bukankah Rasul Muhammad mengajarkan kesederhanaan. Dimana ajaranya mengatakan bahwa bangunlah masjid dengan dasar ketaqwaan, bukan memaksa membangun masjid besar dan mewah, cukuplah dengan tiang-tiang sederhana dan alas tikar. Yang dipentingkan adalah berapa jumlah ummat yang bisa hadir disetiap waktu sholat wajib. Tapi kenyataanya berlawanan, walhasil banyak masjid yang baru pondasi atau dibangun hanya kerangka doang terus tergeletak begitu lama, sambil menunggu dana mengalir lagi.
Masjid Sultan Singapore Masjid Sultan Singapore
Menyoal bangunan lagi, mari kita ambil pembanding dengan Masjid Sultan di Muscat Street, Singapura. Mesjid yang berada di kawasan Kampung Glam ini menampilkan khasnya Islam di Singapura, dibangun di daerah kampung para nelayan yang dulunya bernama Temasek. Mesjid ini merupakan mesjid tertua dan terbesar di negeri singa. Di sekitar masjid dan istana Sultan, terdapat kafe, rumah makan (bahkan dipojok masjid ada rumah makan padang khas Indonesia), dan tempat hiburan.

Tampilan menawan saat pertama saya berkunjung ke tempat ini adalah tempat wudhu & toiletnya yang super bersih dan indah serta wangi. Soal kebersihan memang sudah tidak dimasalahkan lagi di negeri Singa ini.

Lihatlah tidak hanya bersih dan desain yang bagus, tapi juga dipikirkan mengenai ergonomisnya, tempat wudhunya diberikan pegangan tangan kanan dan kiri sehingga mudah waktu membasuh kaki. Rangkaian bunga segar juga mewarnai tempat ini.

Sehabis itu saya masuk ke ruang dalam, bentuk interiornya memang tidak seperti layaknya masjid, malah berkesan seperti bangunan gereja.
Saatnya saya ikut sholat asar berjamaah dengan warga. Nah ini dia, bedanya masjid di negeri singa adalah tidak memakai pengeras suara luar untuk mengumandangkan azan, memang setelah saya tanya ada aturan yang jelas dari pemerintah.

Sesuai dengan histori daerah ini adalah daerah kampung untuk orang melayu dan arab, maka tidak heran jika yang berjamaah adalah orang keturunan keduanya. Saya lihat juga banyak orang Indonesia yang sholat di situ. "Saya dari Medan, pulang umroh dan transit dulu di Singapura" kata seorang Indonesia yang saya temui.

 
Travelers Tip: Untuk menjangkau mesjid ini cukuplah mudah, naik MRT turun di Bugis dan jalan kaki saja menuju Arab Street.


Aku berpikir, harusnya kita bisa meniru. Meniru yang baik adalah wajib. Negeri muslim terbesar ini harusnya sudah sadar dan mulai bagaimana merangkai kebersihan, ergonomis, keamanan, kenyamanan, dan teknologi serta sejarah di dalam membangun/merawat masjid. Harusnya arah kiblat management masjid kita meniru seperti di Singapura. Wassalam.

Baca juga:


 

Posting Komentar