Minggu, 13 September 2009

"Buka puasa bersama", suatu fenomena kelainan?

Mungkin Anda sejak awal ramadhan sudah mendapat undangan buka puasa bersama yang berderet-deret, bahkan Anda diminta untuk confirm supaya nanti 'match' dengan agenda.



Atau kalau kita amati dalam setengah perjalanan ramadhan, undangan buka puasa bersama ada dimana-mana dan meningkat drastis dibanding setengah putaran pertama. Resto pun sudah terdapat list booking dari berbagai tempat sampai akhir ramadhan.

Ini adalah pandangan pribadi saya mengenai buka puasa bersama:

Pada dasarnya saya pribadi  selama ramadhan ini juga banyak berbuka puasa bersama, tempatnya di area masjid, setengah jam sebelumnya ada tausyiah, ada ceramah keagamaan, sambil menanti datangnya maghrib tiba. Setidaknya sebelum berbuka semuanya sudah berwudhu pula.

Saat tiba dibacakan doa berbuka dan khasnya Indonesia ada tabuhan bedug sebagai starting time berbuka, betapa nikmatnya, luar biasa, enak dan segar dengan seteguk teh manis atau gigitan kurma. Ya Allah, betapa besar nikmat berpuasa, segar dan lega urat-urat dengan rahmat-Mu lewat air buka puasa, dan betapa rasa kekerabatan yang tinggi saat bisa berbuka dengan banyak orang. Kadang saya dan teman samping kanan kiri, berbagi kue yang kita bawa sendiri. Luar biasa rasa perasahabatan itu.

Di dalam berbuka puasa itu tidak ada hidangan sekelas masakan resto, cukup ada kurma 3-5 biji, kadang kue, dan kadang pula nasi ukuran 1/4 menu biasa dan lauk sekadarnya. Tentu ada hidangan minuman teh manis atau air putih dan kadang pula es blewah. Hidangan buka puasa ini selain dari donatur juga disokong oleh rasa ingin berbagi antar jamaah melalui kotak infaq khusus buka puasa. Suatu dana berdasar rasa kebersamaan.

Diantara yang hadir berbuka pun beragam, ada bekas menteri, ada eksekutif (kelihatan kadang masih pakai dasi dan bawa laptop, kalie aja ya), ada pekerja/karyawan biasa, ada konsultan, ada programmer, ada pekerja bangunan, kaum dhuafa, dan bersama pula anak peminta-minta. Lengkap semua strata pokoknya.

Sesaat berbuka yang kira-kira 10 menit, sudah dikumandangkan iqomat untuk menunaikan sholat magrib. Karena dalam puasa tidaklah enak perut ini kalau langsung menyantap makanan berat apalagi sampai berlebih.




Lain halnya, mungkin Anda yang berbuka di restoran, Anda sudah terhuyung-huyung menuju tempat resto, macet, kesal, dan makan waktu berjam-jam diperjalanan dengan capek dan rasa tidak sabar. Belum bunyi klakson, serobot sana-sini untuk dapat jalur dan lain sebagaianya. Walhasil Anda bisa saja telat, terdengar kumandang maghrib saat ditengah kemacetan.

Saudaraku, tanpa bermaksud mengurangi rasa kenikmatan Anda berbuka di resto atau tempat makan gedungan; saya hanya berpikir dan ini berdasarkan pengamatan dan diskusi bersama teman-teman yang membenarkan ketidakefisienan berbuka di resto, bahwa:

  • Berbuka di resto jauh membuat kita kehilangan 'moment' rasa berbuka puasa, dalam arti bukan hanya dari segi materi makanan melihatnya.
  • Sholat magrib yang jauh tertinggal dari waktu sebenarnya, biasanya resto tidak menyediakan masjid/mushola, kalau pun ada tempatnya sempit dan berebut wudhu serta berebut tempat (antri), saat inilah kekhusyukan susah dilakukan.
  • Makan menjadi berlebihan dan tahukah Anda biaya cukup besar (walo mungkin ditanggung company). Akan lebih rugi lagi kalau sudah buka puasa bersama di resto tapi bayar sendiri-sendiri. :)
  • Lebih banyak canda tawa dan walhasil waktu Isya tiba kita masih dalam resto.
  • Anda pun masih harus memikirkan jalan pulang yang kadang masih terkena macetnya kota metropolitan.
  • Efek kelewat waktu Isya, sholat taraweh Anda pun kadang terlewatkan pula, memang sholat taraweh bisa dilakukan dirumah, tapi kalau sudah capai dan sendirian mengerjakannya condong akan terlewatkan.

Akhirnya, ini hanyalah sekadar share, ada benarnya Anda mengantisipasi acara berbuka puasa di resto dengan sebaik-baiknya, jangan sampai semuanya menjadi terlewatkan dan melampaui batas. Intinya mesti dilakukan banding antara maslahat dan mudharatnya.Tak lupa di akhir Ramadhan 1430 H ini, kita berharap agar di malam kemenangan nanti tidak ada ironi seperti pada tulisan: Antara Ironi dan Hikmah di Malam Kemenangan

Baca juga pengalaman berpuasa di negara berlandaskan Islam, Brunei Darussalam: Berpuasa di Negeri Brunei Darussalam. Kena usir lho!
Posting Komentar