Senin, 02 November 2009

Berharap Merasa Hilang di Vietnam



Mungkin saja ketika disebut Vietnam gambaran kita adalah sebuah film yang menggambarkan kekuatan tentara biadab Amerika terhadap rakyat Vietnam. Dan tentara Amerika-lah yang menang, walau sebenernya Amerika kalah se'keok-keok'nya dalam sejarah perang melawan Vietnam yang sangat tertinggal dari sisi persenjataan. Jika anda berjiwa petualang yang suka pada hal yang berkaitan dengan historical dan  culture, dimana campuran asia dan western menyatu, tepatlah jika anda memilih Saigon-Vietnam sebagai tujuan. Saigon akhirnya berganti nama menjadi Ho Chi Minh City sejak tahun 1975. Berharap merasa asing dan hilang adalah tujuan untuk pergi ke negeri jajahan Perancis, Amerika dan Jepang ini. 



Bandara Ho Chi Minh City
Jarak tempuh direct flight dari Jakarta ke Saigon adalah 3 jam, dan tentu lebih dari 3 jam jika menggunakan fligt yang mendarat dulu di Singapura. 



Tan Son Nhat International Airport namanya (www.hochiminhcityairport.com), sebuah bandara yang bertata letak dan desain modern. Terdiri dari Terminal 1-Domestic dan Terminal-2 International. Unsur modern sangat menonjol, tidak banyak menunjukkan unsur tradisional seperti bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Sekilas mirip bandara KLIA Malaysia. Sedangkan taman di dalam bandara mirip-mirip di Changi, ada anggrek dan beberapa pohon palem. 



Salah satu masalah di bandara ini yang saya alami adalah saat pemeriksaan imigrasi yang terlau lama, tapi bukan karena daftar pertanyaan yang kita hadapi tetapi masalah system keimigrasian yang memang jalan lambat, begitulah tutur seorang Vietnam sepulang dari Bangkok menerangkan ke saya soal lambatnya system. 

Soal pertanyaan hampir tidak ada dari petugas, yang penting sudah isi form keimigrasian dari Pemerintahan Vietnam maka kita tinggal bablas saja setelah dicap passport. Intinya mudah tidak berbelit saat keluar custom, tentu terkecuali jika anda pernah ada catatan cekal dalam database keimigrasian sebelumnya. Pengalaman tidak serumit ketika masuk ke Singapura, jadi santai saja.

Bandara bekas basis militer saat perang ini sudah direnovasi dan dibuka kembali sejak September 2007. Keluar dari pesawat lewat garbarata, jalan tidak terlalu jauh sudah masuk imigrasi, terus turun tangga untuk ambil bagasi (baggage claim) dan didepannya sudah pintu bea cukai dan keluar bandara, di depan bandara sudah tersedia bus dan taksi. Cukup simple, tidak perlu jalan terlalu jauh. 

Toiletnya pun cukup bersih dan modern. Jangan lupa anda bisa minum air mineral gratis di bandara, dengan kertas kantong (paper cup) yang sudah disiapkan disampingnya. Begitu keluar anda bisa menukar uang ke mata uang dong (VND, Vietnam Dong). Cukup surprise jika anda menukar uang di Vietnam, nilai tukarnya lebih besar daripada di Indonesia.


Di Vietnam ada 2 mata uang yang berlaku, di hotel dan tempat tour mereka mau menerima USD dan Dong, tetapi untuk belanja umum baiknya anda menukar uang ke Dong saja karena akan diterima untuk semua transaksi pembayaran.  Sudah begitu jika menggunakan USD anda akan di kurs lebih kecil dibanding jika dibayar dengan dong langsung.

Travel Tips: Rupiah tidak dikenal di money changer, jadi anda diharapkan membawa SGD atau USD. MYR juga diterima di berbagai money changer, cuma nilainya rada anjlok. SGD dan USD laku keras disemua money changer. Nilai kurs waktu saya datang untuk SGD = 13000 VND dan USD = 18000 VND. Menukar di bandara nilainya lebih kecil dibanding di dalam kota, ada baiknya hanya menukar secukupnya saja dan sesampai di kota bisa ditukar ke money changer yang mudah didapat dimana-mana.

Transport dari Tan Son Nhat International Airport ke Pusat Kota
Jarak bandara ke District 1 sekitar 6 kilometer. District 1 adalah pusat kota di Saigon. Semua tempat wisata, pasar, dan pusat pemerintahan ada di district 1. Ada 3 pilihan untuk ke District 1 dari bandara:

01. Bus Umum, bus bernomor 152 menghubungkan bandara ke terminal bus yang benar-benar di pusat kota, tepatnya di depan pasar Bent Than, dan hanya cukup melangkah sedikit anda sudah bisa sampai ke daerah tourist berada yaitu di Pham Ngu Lau. Daerah ini juga terdapat banyak hotel kelas backpacker dan layanan tour yang aduhai, banyak dan mudah. Bak surga bagi tourist. Bus 152 ini bukanlah bus khusus semacam Damri, tetapi bus umum yang routenya menghubungkan Ho Chi Minh City Airport ke pusat kota. Bus ini melayani sampai pukul 18:00 saja, dan ongkosnya cukup murah hanya 3000 VND (setara IDR 1500).

02. Taxi
Walau sudah ada yang pakai distance meter, taxi di Vietnam masih banyak dengan cara tawar menawar. Saya rekomendasikan memakai taxi Mailinh. Walau begitu kebanyakan kalau sudah malam taxi disana tidak mau memakai distance meter, pandai-pandailah menawar. Dan ini masalahnya, rata-rata driver taxi tidak bisa berbahasa inggris secuilpun jadi pakailah bahasa tarzan, ambil secarik kertas dan pulpen lalu tawar menawarlah. Ini keasyikan tersendiri.

Betul-betul aneh tapi tetap berkesan. Awal naik taxi dengan stir sebelah kiri ini memang banyak hal yang aneh, ketika saya mau memasang sabuk pengaman malah sang driver mengasih kode tidak usah pakai, dia kasih bahasa isyarat kalau kecepatan sudah 120 km/jam baru pakai, hahha....... Ya sudah saya lepas, toh memang di Vietnam tidak akan bisa mengendarai dengan kecepatan tinggi, jumlah sepeda motor yang banyak menjadi faktor penghambat utama.

03. Naik Ojek (Motor Bike)
Ojek tentu lebih cepat cuma anda sedikit repot kalau membawa barang banyak. Tawar-menawar (bargain) harus tetap dilakukan. Biaya ke District 1 sekitar 50.000 Vietnam Dong.

Travel Tips: Jika anda bepergian secara rombongan suatu keuntungan sendiri karena akan murah biaya taxinya, tapi jika anda sendirian berusahalah mencari teman dari negeri lain manapun, jadi akan lebih murah. Secara normal dari bandara ke kota adalah 80.000 Dong, tapi jika sudah malam bisa kena 150.000 Dong.

Satu jenis transportasi selain di atas adalah cyclo, sejenis becak dengan bentuk lebih ceper. Kendaraan ini hadir saat Perancis menjajah Vietnam.

Pham Ngu Lau
Daerah para tourist dari manca negara, itulah sebutan Pham Ngu Lau. Baik untuk naik ojek atau taxi anda cukup menunjukkan alamat dengan jelas, bagusnya dilengkapi nama hotel atau gedung, sang supir dengan senang akan menuju ke tujuan anda. Waktu di bandara saya mendapat teman untuk menuju District 1. Lumayan bisa share biaya taxi.
Tidak usah merasa seram di Ho Chi Minh City walaupun baru sekali anda datang dan tiba malam hari sekalipun, dari bandara ke kota ini semuanya sudah berbentuk kota. Ya, bandaranya berada di kota, layaknya bandara Tabing Padang yang nempel dengan jalan besar, dan malah terlalu jauh dari kota jika di banding sama bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Sang driver akan memberi tahu beberapa tempat yang menarik, dia tunjuk beberap hotel, mall, rumah sakit dan hal-hal yang menarik di Ho Chi Minh, walau dengan bahasa isyarat.

Gokil emang ketika saya tanya "what is your name?' saja dia tidak tahu dan malah bingung, makanya waktu menunjuk rumah sakit bersalin dia sambil menunjuk suatu gedung sembari memberi isyarat tangan ke perut dan bilang 'woekkkk...woekk'. Nikmati saja perjalanan, tentu anda pun untuk pertama kali akan merasa asing dengan ribuan sepeda motor di jalanan.

Hujan rintik di bulan Oktober 2009 mewarnai Ho Chi Minh, banyak orang bilang hujan di HCMc adalah sebentar-sebentar saja. Entahlah saya tidak begitu yakin, tapi waktu disana memang begitu. Ujan deras sebentar terus berhenti.

Apaka perlu memesan hotel terlebih dahulu?
Kalau anda tipe backpacker memesan hotel adalah hal yang sepertinya dihindari, betul bukan? Walau memesan untuk jaga-jaga di hari pertama disarankan. Tapi setidaknya saya sempat berkunjung ke salah satu hotel yang bisa dipesan lewat internet, namanya An An Hotel tepat di jalan utama Pham Ngu Lau harga kalau tidak salah IDR. 250.000,- hmm cukup menguras kocek.

Tidak usah takut sekalipun anda datang sudah malam ke daerah Pham Ngu Lau, daerah ini hidup sampai lebih dari jam 12 malam.
Layaknya jalan Legian di Bali, Indonesia. Ada cafe, diskotik, toko-toko souvenir, agent tour, money changer, intinya lengkap semuanya ada. Kalau anda mau cari yang lebih murah cukup anda masuk ke jalan yanng sejajar dengan jalan Pham Ngu Lau, disitu terdapat setumpuk room for rent, kisaran sekitar 12 USD. Cukup murah dengan ruangan yang cukup buat istirahat dan bisa dapet ac atau fan serta dapet hot and cold water buat mandi. Itupun bisa dibagi dua atau bertiga, karena ada tempat tidur besar 1 dan 1 tempat tidur kecil.

 
Hotel di Vietnam
Hotel atau room for rent di HCMc cukup bersih. Ada hal yang menarik buat saya, di room for rent ini standardnya adalah mencopot sendal atau sepatu saat masih di depan receptionist. Memang soal kebersihan sekelas hotel backpacker di kota ini cukup terjaga. Di hotel non budgeted juga sama saja, cukup bersih dan nyaman.

Uniknya hotel di HCMc ini (kecual hotel-hotel kelas international macam group Sheraton) dibangun dengan cara menjulang tinggi dan jangkung, dengan lebar hanya sekitar 5 meter bisa dibangun 8 lantai ke atas. Pembayaran hotel bisa menggunakan USD atao Dong, saya sarankan anda membayar dengan dong karena ada selisih kurs yang lumayan. Dan satu hal yang saya lihat jika terdapat kelebihan 2000 VND rata-rata tidak dikembalikan. Rasanya seperti uang tips, jadi jangan heran kalau tidak dikembalikan untuk di hotel dan taxi untuk uang-uang kembalian yang kecil jumlahnya.

Berkenalan dengan makanan Vietnam
Satu hal bagi umat muslim ke Vietnam adalah masalah makanan, karena memang hampir semua makanan di Vietnam mengandung babi. Tapi jangan kuatir. Banyak makanan yang halal dan ada yang benar-benar dijual oleh umat muslim.

Travel Tips: Bawalah makanan halal sebelum terbang jika anda menuju ke daerah yang minoritas makanan halalnya. Setidaknya anda bisa membawa roti, kue kering atau makanan halal yang awet.
Saat perut sudah mulai lapar dan hanya berbekal energi dari makanan selama terbang di pesawat dan disambut dingin rintik hujan membuat perut lapar, setelah check in saya menuju ke jalan utama Pham Ngu Lau sambil berkenalan dengan lingkungan baru. Rasanya memang aman. Survey tempat makanan menghasilkan nol, karena ragu itu halal atau tidak. Jujur dari sekian resto yang saya kunjungi dalam menunya pasti ada 'pork', waduhhh...!

Tapi tetap saja berkenalan ditempat asing seperti itu hal mengasyikan tersendiri. Untung dalam tas masih ada roti bread talk bawaan dari Grand Indonesia buat ganjel perut.

Tak lama sambil berputar-putar, bahkan sempat beli semangka dan minum disebuah mall kecil seperti alfamart, akhirnya berakhir pilihan di tukang jual ketan. Saya yakin banget itu ketan, namanya juga ketan sama persis bentuknya di negara manapun. Cuma ini rada beda penyajiannya, ketan ini berwarna-warni dan ada pula yang dicampur sama kacang-kacangan, jadi ada warna kuning, merah orange, dan putih campur kacang-kacangan serta hitam. Saya memilih untuk di-mix, yang terbayang waktu itu seperti memesan ice cream saja. Lalu sang penjual menaburkan wijen, terus kacang tanah tumbuk yang gurih, lalu garam campur gula pasir sepertinya. Enak! Gurih kacang, asin garem, manis menyatu.

Saat enaknya makan ketan, yang entah apa namanya, datang seorang meminta dibelikan ketan yang sama dengan yang saya makan. Waww...rasanya kaget juga, dengan bahasa isyarat dia menunjuk minta dibungkusin. Kalau saya lihat orangnya seperti pengemis, tapi tetap saya tidak mau mengatakan itu. Saya pun mengiakan untuk dibungkuskan ke penjual, lalu orang itu meninggalkan saya sambil berterima kasih dengan bahasa isyarat. Entahlah sepertinya orangnya memang tidak bisa bicara.

Oh ya makanan keliling yang dibawa sama penjual pakai sepeda juga beragam, saya liat ada semacam tom yam dan berbagai makanan khas laut ditawarkan berkeliling. Cuma tidak seperti di Jakarta yang sambil teriak-teriak khas macam 'sateeeeeeeeee'.

Bergaya backpacker memang nikmat jika bisa bercanda sama local people, di akhir makan ketan, saya menawarkan semangka yang saya beli, dan tanpa bosa-basi sang penjual dengan senyum menerimanya. Walau tidak ada pembicaraan karena memang orang ini tidak bisa bahasa Inggris, walau begitu tetap tetap akrab. Selepas bayar dengan harga 20.000 dong per porsi, lalu beristirahat yang saat itu sudah pukul 01.00 pagi. Waktu Jakarta dan Vietnam tidak ada perbedaan.


Next...ikuti tulisan berikutnya di blog ini mengenai ulasan Vietnam.

Baca juga:
Posting Komentar