Rabu, 04 November 2009

Berkunjung ke “Kingdom of Heaven” di Provinsi Tay Ninh, Vietnam

URL's Source: http://wahyuhandoko.blogspot.com


Setelah semalam mempelajari situasi kota Ho Chi Minh City maka diputuskan untuk esok harinya berkunjung ke Cao Dai Temple dan Cu Chi Tunnel, tempat yang sudah masuk agenda untuk dikunjungi. Pagi itu datang ke beberapa agent tour dan pilihan jatuh pada agent tour Sinhcafe (www.thesinhtourist.vn), tempatnya di 246-248 De Tham St, District 1 Ho Chi Minh City. Ini agent tour paling terkenal, kelihatan memang professional.

Saya cukup salut dengan service yang diberikan. Oh ya harga paket-paket tour yang dihargai sama dari semua agent. Hebat. Hal seperti inilah yang membuat tourist nyaman, tidak merasa dimainkan harga sama agent. Rata-rata mereka hanya bermain service saja. Oh ya toiletnya juga bersih ditempat tour ini, ada wastafel dan sabun tangan juga. Rupanya tidak sejorok beberapa tulisan yang sebelumnya saya baca dari berbagai artikel dan blog.

Travel Tips: Pesanlah ticket tour lebih awal, rata-rata tourist memesan 1 hari sebelum berangkat. Jumlah kursi terbatas dalam setiap bus.

Menu Sarapan
Setelah memesan dengan harga 140.000 VND, tentu cari sarapan pagi. Masih ada waktu 45 menit, bus berangkat pukul 8:15 AM. Awalnya berusaha makan di halal food, yang jual kebab, tapi belum buka. Akhirnya bergaya orang Vietnam, pagi-pagi makan Pho Ga (semacam soup sapi).

Pho adalah makanan khas Vietnam berupa sup sapi atau ayam dengan mi beras dan disajikan dengan garnish berupa tauge, basil, daun ketumbar, limau, cabai, dan kecap ikan

Ahaa…pertama makan pho ini rada aneh, soalnya tidak tahu daun-daun mana saja yang mesti dimasukkan dalam kuah atau dilalap langsung. Ya udah main cemplung-cemplung saja, tapi saya lihat ada daun yang cepat berubah jadi hitam karena panas air kuah. Akhirnya ya diubah, dilalap langsung. Sebelum lalap langsung sebenernya tengak-tengok kanan kiri liat orang lain dulu, sialnya tidak ada yang coba pakai dedaunan itu. Atau memang seharusnya tidak dimakan kali ya…;) Enak memang, daging sapinya terasa banget. Dan cocok sama lidah saya yang suka sama daun-daun dengan rasa-rasa mirip seldri. Rasanya mint. Dan konyolnya kebanyakan cabe potong, waduuuwww….pedes amat.

Bus jalan tepat pukul 08:15 AM, lagi-lagi salut sama on time-nya. Hmm beginilah service yang bagus, agen tour di Indonesia mestinya juga niru ya. Dalam bus diabsen dan disuruh nulis dari mana asal negara. Waktu itu bersama rekan-rekan dari Milan, Australia, Malaysia, Singapore dan Perancis. Beragam ada yang masih muda dan yang sudah lumayan tua. Saya cukup senang bersama mereka, duduk dan ngobrol bersama. Rata-rata rekan-rekan itu bertipe backpacker semua, jadi enak dan cukup bersahabat.

Kalau dilihat cara handle tour ini memang professional, saya berkali-kali geregetan kalau ingat service tour di negeri sendiri yang cara servicenya kurang bagus. Maaf bukan menjelekkan tapi ya memang adanya begitu. Tour guide, namanya Tom, memberi guidance sepanjang jalan dengan Bahasa Inggris, walau logat vietnamnya muncul. Tapi itu tidak apa, yang pasti lancar. Cerita dari sejarah Vietnam dan perangnya sampai ke detail-detail ekonomi Vietnam saat ini, lalu ke menjelaskan object yang akan dituju dan sampai masalah banyaknya motor di Vietnam. Kalimat yang saya ingat banget adalah “Ladies and gentlemen…” dengan gaya khas dan senyum lebar sang tour guide. Dan ini membuat ketawa sepanjang perjalanan.


Sepanjang jalan ke luar HCMc tampak jalan memang cukup padat dengan sepeda motor.


Tapi hal lain yang saya lihat adalah banyaknya taman yang tertata apik dan bersih. Kalah sama Jakarta soal taman kotanya.


Handicapped Village
Bus berhenti di sebuah daerah Handicapped Village, tempat orang-orang cacat perang membuat kerajinan semacam keramik, ini benar-benar handmade. Sepertinya beribu-ribu cangkang telur dipakai untuk pembuatannya. Disini juga sebagai hampiran untuk ke toilet sebelum menempuh perjalanan jauh ke luar kota.

Kantuk tentu saja, tapi tetap saja saya melek terus menikmati luar daerah dari pusat kota. Melewati persawahan, ada pengembala sapi, ada pemandangan beberapa anak sekolah yang memakai baju ao dai. Nah ada satu kehebatan yang saya lihat, meskipun di daerah pelosok, lampu penerangan jalan selalu terpasang dengan rapi tiap tiang listrik. Dan ada pewarnaan cukup jelas untuk instalasi listrik mana kabel R, S atau T.

Cao Dai temple
Sampailah di Cao Dai temple dengan halaman luas dengan pepohonan tua, berada di Propinsi Tay Ninh jauhnya sekitar 100 km ke arah barat laut Ho Chi Minh City, jam mendekati pukul 12.00 tepat.


Saat itulah para penganut agama DaoDais, dimana campuran Confucianism, Christianity, Taoism, dan Buddhism ini datang ke temple ini. Cao Dai sendiri artinya "Kingdom of Heaven".


Travel Tips: Jangan pernah mengambil foto dengan latar belakang patung Budha di temple ini, karena dianggap suatu ketidakhormatan. Dan tetaplah diam selama kebaktian berlangsung. Anda tetap diperkenankan melihat ritual kebaktian ini sampai usai. Naiklah ke tangga disamping bagian dalam bangunan ini untuk mendapatkan pandangan yang bagus dan leluasa.



Melihat baju putihnya mengingatkan baju koko yang biasa dipakai umat muslim, kalau yang kuning seperti di Budha. Saat itu para tourist diminta naik ke lantai atas yang memang disiapkan untuk melihat kebaktian ini.


Ada music pengiringnya dan suasana jadi berkesan lain. Sedangkan dinding bangunannya semuanya berwarna warni dengan penuh lambang "The All Seeing Eye" atau "Divine Eye". Ada 4 kali kebaktian disini; jam 6, 12, 18, dan 24. Rasanya saya pengen tahu yang jam 24, rasanya seperti sholat tahajud. Siang itu melihat mereka sembahyang saya benar-benar ingin melakukan sholat juga disekitar situ, karena tepat jam sholat Dzuhur, tapi urung dan saya jamak setiba di hotel.

Pengikut ajaran ini rata-rata sudah tua, tidak begitu tampak bagi kaum muda yang ikut kebaktian, ada satu anak kecil saja yang ikut-ikutan sama orang tuanya. Ntah apakah aliran yang dipelopori oleh Sun Yat Sen dan Victor Hugo di daerah Vietnam Selatan ini akan berkelanjutan ke generasi berikutnya atau tidak.

Selamat jalan Cao Dai! Iringan rintik hujan kecil mewarnai pamitan saya dengan temple ini.

Saya mencari sepatu, karena sama seperti masjid, masuk temple ini juga harus tanpa alas kaki. Dan sampailah makan siang dengan biaya sendiri tentunya. Lagi-lagi makan pho dengan rasa yang rada beda. Lebih berasa pedas lada hitam.

Ikuti selanjutnya mengenai Cu Chi Tunnel di blog ini.:)
Baca juga:

Posting Komentar