Sabtu, 12 Desember 2009

Masih banggakah Anda dengan berbelanja di Singapore?

Berada disalah satu gedung di seputaran Bundaran HI (Hotel Indonesia) memang ada kesan lain. Sementara mungkin kita lebih kental dengan kata kemacetan, kotor, semrawut untuk Ibu Kota Negara ini.

Berada di lantai 29 dari 56 lantai, dengan desain gedung yang futuristik dan memaksimalkan penyerapan cahaya dari alam dengan desain yang modern dan open view dari semua dindingnya memang rasanya seperti (lagi) bukan di Jakarta.

Kala bosan, tinggal turun pakai lift yang modern pula, dan langsung terhubung dengan sebuah toko buku besar dan elegan dengan cafenya. Cukup 30 langkah dari keluar lift sudah bisa baca-baca buku.


View Bundaran HI dengan air mancurnya sebuah kesan tersendiri. Mengingatkan kebesaran Presiden Soekarno saat itu yang sangat concern dalam mendesain tata kota dengan Tugu Selamat Datang-nya yang ber-opposite Monumen Nasional dalam rangka menyambut Asian Games IV 1962 dengan kobaran slogan ”A Dramatic Symbol for Free Nation Working Together."


Berkunjung ke toko buku untuk membuang kepenatan memang sangat cocok, bagi saya tiap kali berkunjung ke toko buku ini senang melihat buku traveling dan beberapa buku diving, tapi jarang beli, upss!

Kedepan sedikit masuk coridor east area, dimana lagu alunan timur-tengah mewarnai perjalanan. Desain dari lantai, dinding dan semua pernak-pernik bergaya east coastal, negeri-negeri Asia.

Termasuk yang saya suka adalah salah satu lantainya memakai tegel kuno khas Jawa tempo dulu. Dan sebentar lagi masuk kawasan bergaya taman Jepang dengan lagu khas Jepang dari sebuah resto negeri sakura.


Dan perubahan lagu dan desain yang selalu berubah satu detail ke detail lain tiap langkah kita berjalan sampai ke west mall area.

 

Dan tahukan bahwa resto yang dibuka di east mall dan west mall itu berbeda berdasarkan culture makanan orang east dan west. Di east mall ini resto yang dibuka semua menu-menu Asia, dari warung pojok dengan pajangan becak sama minuman kelapa muda, gado-gado, sampai hoka-hoka bento. Begitu di west mall kita akan ditemukan resto bergaya barat. Walau tidak semuanya menu resto begitu, tapi secara garis besar menu-menu dibuka berdasarkan area culture.


Kalau dilihat, anda akan melihat petugas kebersihan yang tiap menit hampir membersihkan dengan sangat detail semua tools yang sering tersentuh pengunjung, misal pintu dan tuts lift, elevator, toilet, dan pagar pembatas. Dan sampah yang diambilkan oleh petugas kebersihan ini pun dibawa pakai keranjang dari rotan dan seakan-akan sedang membawa kue bukan sampah.

Lantai yang selalu dibersihkan, dan selalu dengan cermat tiap ada noda yang rada susah petugas akan mengikis dengan alat yang mereka bawa. Soal kebersihan sangat detail.

Saya pernah sengaja sampai malam dan ingin tahu apa saja yang dilakukan petugas untuk me-maintenance mall, ternyata waktu malam hari pembersihan masih dilakukan terutama yang siang hampir tidak bisa dilakukan. Tolet dicuci bersih dengan cairan pembersih, dan yang saya lihat tidak cuma itu, petugasnya juga memakai pakaian dan tools yang cukup safety. Pakai tutup mulut dan hidung, memakai sarung tangan dan sikat serta tools lain yang cukup memadai. Lubang-lubang AC di atap di bersihkan dengan detail. Dan entah apalagi yang di-maintenance malam itu, tentu masih banyak.


Mungkin anda pada suatu waktu pernah dilihatkan photo teman dari luar negeri sedang berphoto-photo dalam mall modern dan mungkin ada kagum saat itu. Tapi saya pikir sekaranglah saya berbangga dengan Jakarta. Mall Grand Indonesia tidak hanya modern tapi tema culture negeri Asia dan non-Asia diangkat dan ditata apik. Serta penamaan salah satu merchant dengan nama Alun-Alun Indonesia sangat tepat mengingat semua handicraft Indonesia dengan nilai seni yang sangat tinggi dijual disini dengan tatanan apik. Batik Indonesia dengan kualitas sangat bagus, mainan traditional, keramik, wayang semua dijual dengan layout yang aduhai.

Tiap jam di West Mall Level 3A-Entertainment District, anda akan dihibur dengan water fountain ditengah-tengah mall dengan dengan iringan lagu-lagu memories. Segudang acara tentu mewarnai tiap bulannya di mall ini.

Nikmatilah mall ini dari pagi sampai malam, karena begitu malam tiba nuansa lain akan berbeda di mall ini dibanding suasana siang. Dengan desain yang menakjubkan, di langit-langit east mall akan tampak bintang-bintang dari lampu-lampu crystal. Di west mall akan tampak seperti kita sedang di China dengan lampion merah yang menyala seakan menyulut emosi perjuangan hidup.

Percayalah, dibanding mall negeri tetangga, Vivo City Singapore dan Pavilion Kuala Lumpur keduanya masih dibawah level Grand Indonesia untuk design, contains, dan tema mall. Barang yang dijual sama persis dengan mall di Singapore.


Hai Saudaraku di Indonesia, masih banggakah Anda dengan berbelanja di Singapore? Wong semuanya sudah ada di Jakarta kok...keep smart! "Pergilah ke negeri manapun, pelajari culture dan tradisi-tradisi baiknya, lalu bawalah ke Indonesia, bukan berbelanja" demikian tulisan dalam buku Syafir Senduk sang penulis bidang finansial. Jangan gengsi, gengsi akan membunuh jati diri negeri.
Posting Komentar