Kamis, 28 Januari 2010

Bermalam di bandara "the Land Below the Wind”

Pesawat mendarat di Kinabalu International Airport sudah hampir jam 11 malam waktu Sabah. Bandaranya sangat sederhana dan kecil. Bandara ini pada saat artikel ini ditulis sama sekali tidak ada fasilitas garba rata, jadi naik dan turun pesawat semuanya jalan kaki.

Jalan kaki menuju pintu keluar, seperti biasa masuk ke imigrasi, saat mengantri tergambar cukup sederhananya bandara Kinabalu. Antrian passport asing lumayan banyak, saya lihat ada beberapa turis yang bersiap naik gunung juga. Satu hal yang saya cermati adalah banyaknya warga Kinabalu, Sabah yang berlibur dan belanja di Jakarta dan Bandung. Saya sempat lihat budak (anak kecil) yang membawa novel Sang Pemimpi, ada pula cindera mata Batik Keris khas Indonesia dan seabreg tentengan dari factory outlet di Bandung, dan tas belanja dari mal-mal Jakarta.

Bermalam di bandara
Tiba malam hari adalah tantangan bagi semua orang jika keluar negeri. Rencana awal ingin berinap di salah satu lodge deket bandara namanya Borneo Beach House. Kaki sempat melangkah keluar dari bandara, tapi urung balik lagi. Sepi sekali seputaran bandara. Akhirnya masuk lagi ke bandara dan menuju mushola di lantai 2. Dilantai 2 ini juga sebenernya tersedia beberapa restaurant termasuk KFC, cuma sudah tutup semua malam itu. Selepas sholat ternyata banyak orang yang kemaleman juga dan sedang tidur-tiduran di deretan kursi ruang tunggu, pertama saya pikir hanya menunggu dijemput ternyata mereka memang menginap di bandara.

Aha...ide untuk ikut tidur di bandara mendadak muncul. Mengambil posisi di depan persis dari kantor Kastam Diraja Malaysia (Royal Malaysian Customs), dengan alasan lebih aman. Rebahan dengan menghadap layar departure/arrival rasanya bisa mengikuti jadual pesawat semalaman sampai akhirnya tidur. Tentu pengamanan passport dan document penting perlu dipertimbangkan dalam keadaan seperti ini.

Jadi imam sholat tapi ada makmum yang mengulang
Hari pagi, terbangun suasana riuh dan ternyata dari lantai 1 orang bersiaga check in untuk penerbangan pagi buta. Wah..suara azan terdengar dari TV, beda dengan di Kuala Lumpur yang jam sholatnya terasa siang karena layaknya ‘kecurangan’ adjustment dengan waktu GMT. Di Sabah terasa subuhnya sama dengan sepagi di Indonesia bagian barat. Antara Sabah dan Kuala Lumpur menganut satu waktu meskipun secara geografis berjauhan.

Sehabis ke toilet (yang rada jorok), saya menuju ke mushola yang berada pada lantai yang sama. Sempat memimpin sholat subuh, jadi imam. Tapi pas selesai salam pertanda akhir sholat ada seorang yang mengulang sholatnya. Penasaran, kenapa diulang saya pun menunggu dan memperhatikan sholatnya sampai usai. Ternyata di Sabah masih banyak menganut pakai doa qunut dalah sholat subuhnya, yang secara ada atau tidak ada syah saja sholatnya. Tapi tidak menjadi masalah, saya salamin tuh orang, yang ternyata adalah polis bandara.

Menatap Laut China Selatan
Keluar bandara belok kanan menuju Jalan Mat Salleh, jalan ini menghubungkan bandara ke arah bandar (sebutan umum untuk kota).
 
Berbekal peta, saya menuju ke pantai yang ternyata sangat-sangat dekat. Byuhh segarnya, pagi hari melihat laut yang letaknya di atas Pulau Kalimantan, namanya Laut China Selatan sedang pantainya bernama Tanjung Aru.
Mata memandang lurus dari Pantai Tanjung Aru dan terbayang jauh di seberang sana adalah Vietnam & Cambodia.
 
Beach House Lodge di dekat Bandara Kinabalu
Nah geli rasanya, ternyata tempat lodge yang semalam saya cari dekat sekali dengan bandara dan pantai Tanjung Aru. Anda tinggal jalan kaki dari bandara ke arah jalan utama sekitar 10 menit lalu belok ke kiri, jalan beberapa langkah maka lodge ini akan nampak disebelah kanan jalan. Anda tinggal menyebrang jalan. Jika anda lurus kedepan terus maka akan bertemu dengan penginapan kelas menengah ke atas.
 

Travel Tips: Jika anda kemalaman tiba di Terminal 2 Kinabalu International Airport ada baiknya anda memesan lodge ini. Lodge ini buka 24 jam dan dapat dipesan untuk booking secara online. Berjarak sekitar 10 menit jalan kaki dari airport.  


Taman Prince Philip
Di dekat pantai ini ada taman, Prince Philip Park, keadaanya sudah tidak begitu terawat tapi cukuplah untuk dinikmati.

Ada tanaman yang saya tidak tahu namanya tapi sekilas berspecies dengan buah manggis, dengan warna yang hijau selagi muda dan merah saat sudah masak.

Di dalam taman ini ada kolam ikan dengan bunga teratai, saya perhatikan ada ikan mas, kura-kura, dan yang menarik ada ikan gabus yang jarang saya lihat dipelihara dalam suatu kolam. Beberapa orang lari pagi dalam track yang sudah disiapkan. Semakin siang saya lihat semakin banyak orang berkunjung ke pantai ini.

Di sekitaran pantai inilah berdiri restaurant & hotel-hotel yang lumayan besar dan berbintang.
Posting Komentar