Sabtu, 23 Januari 2010

"Sudah laporan?" kini sudah melapor ke Sang Khalik

Kami punya sahabat, 3 hari yang lalu sahabat kami itu meninggalkan kantor di salah satu client kantor kami, meninggalkan untuk selamanya, menghadap Sang Khalik.

Sahabat ini membantu penyelaras aktifitas kerja di kantor client, dialah seorang yang salah satu tugasnya mencuci gelas dan peralatan pantry lainnya, ada kala jua mendistribusikan surat-surat.


Satu hal yang kami kagum adalah 'enjoy'nya cara bekerja, dia murah senyum. Menerima dengan senang hati apa yang menjadi beban kerjanya. Wajah bahagia ada dimukanya.



Menarik gelas disetiap meja karyawan setiap usai jam kantor. Mengumpulkannya dalam troli dan menariknya ke pantry. Sembari menarik gelas dia suka menyapa dan berkomentar aktifitas kita, intinya dia mau ijin narik gelas-gelas kita cuma dibahasakan dengan komentar-komentar ringan.


"Tagihan-tagihan", itu kata yang sering dia lontarkan ketika mendistribusikan surat-surat walau surat dinas sekalipun. Asal muasalnya selorohan berawal dari selain surat dinas juga lebih banyak tagihan kartu kredit yang didistribusikan.


Sering dari kami memberikan komentar dengan cara kerjanya yang benar-benar asik, menikmati kerja dengan tanpa ada beban atau tekanan dan tendensi apapun. Mungkin berbeda dengan kita yang masih ada rasa tekanan dan mungkin tendensi.




"Setiap umat mempunyai umur masing-masing. Apabila ajal itu sudah datang, mereka tidak boleh meminta ditangguhkan atau dipercepat walau sesaat." Foto : Ilustrasi/Kinabalu Mosque

Belum lama ini sahabat itu berulang tahun, masih teringat saya dan seorang teman kantor saya, ingin membelikan kue untuknya. Sedih. Niat itu tidak terwujud, karena aktifitas kerja. Benar-benar ada penyesalan. Tentu dengan kata seandainya; seandainya belum meninggal...maka..., seandainya waktu itu cukup waktu...maka..., dan lain-lain. Untuk apa kebaikkan ditunda?



Hal yang kami suka dan cukup menusuk hati saya adalah ajakan untuk sholat jika waktu sembahyang sudah tiba. "Laporan, laporan", begitulah cara mengingatkan kami. Tidak jarang ketika berpapasan dimana saja, kami dapat reminder, "Sudah laporan?". Biasa dia mengatakan "sipp" sambil menyodorkan jempol ketika dijawab "sudah" atau "sudah donggg" dengan sambutan senyuman.



Suatu hari saya pernah sampai agak malam di kantor itu, Beliau berkali-kali mengingatkan "Laporan dulu Om...", ketika saya belum sholat Isya. Selepas keluar lift sekembali dari mushola di lantai 30, senyum beliau menyambut saya. Puas jika seorang temanya sudah 'laporan'. Beliau juga suka membaca koran sambil menunggu karyawan pulang semua. Kadang saya ikut nimbrung berbagi koran. Terakhir kali saya ingat benar beliau masih sempat membahas kasus Century.



Ketika saya sedang berada diluar client kantor itu, ada pesan masuk tertanggal 19.01.2010, "Pak Kesi sedo Om". Sempat saya menangis membaca pesan itu. Kini sahabat itu telah tiada, dia melapor ke Sang Khalik. Tidak diduga. Begitu cepat pertemuan dengan beliau.

Kematian memang tidak tahu kapan datangnya, esok harinya Presiden Direktur Astra yang menjadi tempat kami mengabdi di group tersebut juga meninggal. Kerinduan akan kebaikan Alm. Bapak Michael D. Ruslim terus mengalir sampai beliau menutup mata di Singapura.

Seperti kutipan interview Warta Ekonomi di tahun 2006 berikut sangatlah bisa menjadi cerminan kebaikan Pak Michael:

"Kalau terpaksa harus mengurangi karyawan, apa yang Anda lakukan?
Tanggung jawab terbesar perusahaan ada pada pimpinan. Apa artinya memecat 100 satpam dibanding dengan saya tidak melakukan perjalanan ke Jepang satu kali? Cost-nya hampir sama. "

"Lantas, apa yang Anda lakukan jika sedang stres?"
Bukan saya sok beragama. Walau bagaimanapun, manusia itu cuma punya dua tangan. Maka, kadang malam hari saya berzikir. Kemudian, apa sih gunanya stres? Itu hanya akan membuat lingkungan sekitar menjadi tidak nyaman.

Hanya kebaikan dan kebaikan, manusia akan selalu dirindukan, dan merasa kehilangan yang berat akan jasa baiknya.



Innalillahi wa innailaihi rojiun, kami milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Semoga amalan Pak Kesi dan Bapak Michael D. Ruslim diterima disisiNya, diberikan ketabahan kepada keluarganya. Dan tentu menjadi peringatan bagi kita semua. Bertasbihlah dan tawadhu.


Poskan Komentar