Jumat, 16 April 2010

Masjid Musulman, sedikit keajaiban di Ho Chi Minh City

Serbuan makanan ala barat di Vietnam
Dibenci dan sakit hati, tapi dinikmati. Itulah watak Saigon saat ini terhadap Amerika menurut saya. Setelah membuka hubungan dengan Amerika dengan datangnya Bill Clinton ke Saigon, dan Clinton singgah ke warung Pho 2000 yang akhirnya warung itu berslogan "Pho for the President". Buntutnya menjadikan fast food asal Amerika juga terbuka di Ho Chi Minh.
Saya menuju ke KFC yang tidak jauh dari Pham Ngu Lau menuju Jalan Le Lai dengan melewati sejenak di taman 23/9 Park. Walau malam sudah agak larut banyak warga Saigon berolah raga di taman ini, saya akui orang Saigon suka sekali dengan olahraga. Orang berkumpul dan tua muda bermain semacam takraw tapi bolanya mirip shuttle-cock ukuran besar. Tendang sana-sini dengan gerak refleks yang menyehatkan jiwa raga.


Bocah Vietnam sedang merayakan ulang tahunnya
Malam itu ada pesta ulang tahun di restoran Amerika itu. Sikap anak Vietnam sudah sangat terbuka terhadap orang-orang asing. Mereka mudah sekali saling sapa. Ada yang mendekat dan menawarkan kue ulang tahunnya ke meja saya. Ahhh...mimiknya pun sudah gembul.


Generasi Vietnam tidaklah kurus-kurus lagi seperti kebanyakan orang bayangkan. Laju pembangunan Vietnam jauh melebihi Indonesia dan Philipina, Vietnam masuk negara Asia Tenggara yang cepat pembangunanya. Angka harapan hidup tahun 2009 untuk Vietnam sebesar 74 tahun setara dengan Malaysia, sedang Indonesia 71 tahun


Kepadatan motor di Vietnam
Saya memilih tempat dilantai 2 untuk menikmati KFC Saigon. Rasanya lebih enak untuk memandang kota ini dari lantai atas. Lalu lalang sepeda motor yang padat tiada henti.

Nampak cara penyajian menu ala amerika ini yang masih dihiasi tomat dan mentimun, serta coca cola yang ditempatkan dalam gelas bukan gelas karton. Nasinya pun lembut pulen khas rasa nasi-nasi Vietnam. Pandangan luar dari lantai 2 adalah kepadatan motor sekalipun sudah malam hari. Berkisar 7.000 motor yang ada di kota Saigon, begitulah tutur sang guide tour yang saya temui siang tadi. 


Berdansa di taman terbuka
Disebelah seberang dari KFC ada taman Tao Dan Park, Anda bisa kunjungi taman ini terutama jika malam minggu. Tidak jarang orang berdansa ria, mereka sepertinya bebas merdeka, perang adalah masa lalu. Vietnam selalu menawan. Kutemui 2 orang Ibu yang sedang latihan berdansa. Satunya guru bahasa Inggris, satunya sama sekali tidak bisa bahasa Inggris. Senang bisa bercanda dan tukar cerita bersama mereka. Mereka bercerita bahwa perang adalah masa lalu yang akan dikubur dibenaknya. Optimis untuk masa depan. Oh ya mereka sangat mengenal Indonesia, terutama Aceh, terkait tsunami tahun 2004. Mereka juga tahu kalau Indonesia terdiri dari ribuan pulau, dan ini yang selalu terkenang disemua tempat yang aku temui, memuji tanah air dengan beribu pulau ini. Berbanggalah.


Menyinggung soal ribuan pulau, aku bercerita tentang Pulau Galang dimana tempat saudara-saudara mereka tinggal di Indonesia. Penduduk Galang berasal dari para manusia perahu saat konflik Saigon dan Vietnam Utara berkecamuk. Takut menyinggung perasaaan mereka sebenarnya, saat bercerita hal ini. Konon orang Vietnam tidak suka diceritakan masa lalunya, tapi malam itu tentu tidak, mereka malah senang dan aku minta mereka berkunjung ke Pulau Galang. Akrab dan penuh canda tawa.


Akupun malam itu mendapat petunjuk arah menuju masjid dari mereka, Alhamdulillah, dimanapun masjid adalah hal menarik untuk dikunjungi terlebih di negeri minoritas muslim. 




Hotel dan Coffee di Sepanjang District 1 HCMC


Nyasar dan salah arah! Tentu saja salah arah, namun selalu menarik di tiap langkah yang terlewat. Di satu sudut jalan ketemu penjaga, semacam satpam, mereka tidak tahu juga arah yang mana. Kata untuk mencari masjid besar di HCMC adalah Sheraton Saigon Hotel, karena beberepa referensi yang kudapatkan mengabarkan dekat hotel itu. Gilanya orang tidak tahu dimana hotel berada, atau mungkin salah tangkap bahasa Inggrisnya?
Akhirnya bertanya pada sebuah counter Polo T-Shirt, sekalian cooling down dengan harapan semburan AC outlet, cucuran keringat tidak tertahan, capai dan letih. Byuhh..dapet petunjuk juga arahan yang benar setelah dua orang sales promotion girl ditambah dengan satu orang kasir membantu membaca peta yang kubawa. Kuucapkan terima kasih, selain petunjuk juga dapat semburan udara dingin dari AC.

Traveler Tips: Orang Vietnam kurang tahu soal bahasa Inggris, ada baiknya selalu membawa peta, penjaga toko modern mungkin bisa membantu mengarahkan tujuan Anda walau tidak selalu tepat.
Jangan bayangkan makin seram perjalanan ini karena nyasar sana-sini, terbalik keadaanya, kutemukan kompleks yang indah dengan berbagai jajaran hotel mewah; Continental Saigon, Park Hyatt, Sheraton dan jajaran coffe & bar.


Sangat modern dan bersih, klasik tapi terawat. Saat berjalan itulah diseberang ada orang berpakaian jubah putih yang sangat kontras dengan sekitar, karena hanya satu orang diantara ratusan yang tidak jamak berpakaian jubah. Kutunggu di ujung jalan saat dia menyebrang, akhirnya aku dihantar ke masjid yang kucari. Orang ini ahli kimia dari Pakistan yang bekerja di Vietnam. Jabat eratnya terasa penuh persahabatan. Masya Allah, dia berucap "Alhamdulillah", ketika dia tahu bahwa lawan jabat tangannya adalah orang Indonesia. Menepuk pundakku lebih dari 3 tepukan, dan menyilakan masuk ke masjid.

Sebuah hadits dari Rasulullah SAW

Masjid Musulman, masjid tua yang dibangun sejak tahun 1935 oleh Muslim India, jabat erat sekali lagi aku dapatkan dari penunggu masjid ini, sedikit bisa bahasa melayu. Muslim Vietnam umumnya turunan dari suku Champa, sebuah bekas kerajaan yang mengawal Vietnam bagian tengah dan selatan. Champa juga terkait dengan sejarah Kerajaan Majapahit yang pernah ada di Indonesia. Sekitar tahun 700-1000, Champa mempunyai pengaruh besar terhadap rute perdagangan dari China, India dan pulau-pulau di Indonesia bahkan sampai Baghdad. Saat ini keturunan muslim suku Champa ini masih meneruskan kehidupannya di Cambodia, Vietnam dan Laos. Di Cambodia sendiri dikenal dengan Kampong Cham yang aktif beraktifitas seperti update berita di websitenya (http://www.tckip.org/), Today Cham Khmer Islam Production. Saat saya ke Cambodia tahun 2010 memang benar adanya, bahwa sebagian suku Champa ini menjalankan syareat Islam, terlihat saat di bandara Phnom Penh waktu itu berkumpul orang-orang suku Champa ini untuk menghantar haji saudara-saudaranya.
Masjid Musulman terletak diantar gedung & hotel mewah
Sebelum masuk ke masjid ini, kuambil wudhu lalu kutunaikan sholat jama' yang sesiang tadi belum sempat kulakukan, karena aku berniat untuk sholat di masjid ini sedari siang.
Sedikit terpikir betapa keajaiban kecil ini terjadi sejak masa lalu, ditengah kota yang minoritas kaum muslimin ini terdapat masjid yang benar-benar di pusat kota, diantara gedung besar dan hotel mewah. Hal ini tetap mengusik saya untuk lebih tahu sejarah Islam di Vietnam. Kata penjaga masjid itu, dia berkata dalam bahasa melayu "Berkah Allah...."

Peta untuk menuju Masjid Musulman dari Pham Ngu Lau bisa dilihat di peta berikut:

View Larger Map

Baca juga:

Posting Komentar