Senin, 20 Desember 2010

Short-travel short-time short-story, 2 days in 2 countries

Traveling kadang tidak perlu waktu yang panjang, bahkan tanpa rencana matang pun bisa saja. Kita bisa memakai hari Sabtu dan Minggu, 2 hari untuk berkunjung ke negeri lain pun sangatlah memungkinkan, tentu untuk membuat segar kembali setelah anda beraktifitas dalam project atau rutinitas kerja.
Rutinitas project harus diimbangi dengan aktifitas lain agar tetap ceria
Lalu bagaimana supaya murah? Tentu kita mesti jauh-jauh hari mencari tiket promo, nah disaat seperti inilah short travel bisa direncanakan, awalnya kita hanya ke negeri A, namun pada suatu saat didekat-dekat hari H ada promo lain, coba saja anda membuat plan lain dari kota A tersebut ke negeri B. Jadi sangat flexible, murah dan fun, berikut salah satu short travel :

01. Jakarta ke LCCT KL 
Ambilah penerbangan Jumat malam dan bersiaplah menginap di bandara. Susah dong? Sebagai traveler anda sudah saatnya merubah pikiran bahwa bandara adalah salah satu tempat 'terlengkap' fasilitasnya, melebihi hotel. LCCT KL merupakan tempat transit hampir semua traveler dari seluruh dunia, jangan takut, dan lebih asik ajaklah bicara para traveler itu, mereka akan senang ketika menceritakan rencana atau pengalaman travelernya. Walau mereka dari negeri Eropa atau Australia mereka tidak segan untuk bermalam di bandara tentu dengan alasan mesti mengejar connecting flight yang pagi buta. Daripada menginap di hotel tentu lebih siap jika menginap di bandara. Jika anda akan menuju ke KL Sentral dan travel di KL ikuti link berikut: 

02. Kuala Lumpur - Phnom Penh
Alih-alih untuk memberi nilai lebih dari tiket promo, mengambil penerbangan paling pagi adalah hal terbaik. Kita harus bangun pagi sekitar jam 4. Berbahagialah bagi yang muslim, karena di LCCT sebagai satu bandara di Malaysia tentu tersedia mushola (prayer room). Anda bisa sekalian cuci muka, sikat gigi dan berwudhu (ablution). Melakukan sholat malam di saat traveling pun suatu nilai lebih, jadi tidak hanya traveler tapi cobalah isi hati kita dengan pendekatan kepada Tuhan disela-sela traveling. Bangun lebih awal sholat malam atau bersembahyanglah sebelum tidur, lakukanlah.

Bersiaplah check in. Saya selalu mengutamakan self checkin (by web, kiosk atau mobile). Lalu bersiaplah makan pagi. Mencari makan pagi dibandara adalah hal yang mudah, 24 jam selalu ada. 
Makanan yang tidak jamak bagi Indonesian
Ingatlah negeri tujuan soal makanan, karena bagi yang mengharuskan makanan halal adalah tantangan tersendiri dalam traveling. Selalu menyiapkan bekal makanan halal adalah hal baik dalam memasuki negeri yang berpenduduk non muslim. Bagi yang non muslim tentu tidak ada masalah. Siapkan selalu bekal, ada baiknya anda membeli makanan yang bisa disimpan sampai siang atau sore; misal burger. Membawa roti kering juga sangat dianjurkan untuk mensuplai energi selama traveling.

03. Visa on Arrival
Salah satu kesepakatan Indonesia Cambodia yang belum dijalankan adalah visa exemption, walau hal ini sudah ada kesepakatan sejak Juni 2010.
Cambodia tetap menerapkan bea Visa untuk Indonesia

Padahal dulu saya cukup bahagia setelah ada kabar kesepakatann bebas visa kedua negara tersebut. Aneh emang sesama negara Asean masih belum bebas visa. Tidak usah mengurus di Jakarta atau melalui visa online, pengurusannya cukup mudah, hanya 10 menit kurang dan lebih murah. Visa on arrival berbea USD20, jika cara lain bisa sampai USD25 belum ditambah waktu dan biaya anda monda-mandir ke kedutaan. Siapkan foto 4x6 1 lembar saja dan isi form permohonan (bisa didownload juga)

Tiba di Phnom Penh masih pagi sekitar jam 8, Phnom Penh dan Jakarta satu daerah waktu. Tiba pagi hari juga hal baik untuk traveling model backpacker, lebih untung dari sisi waktu. Dua hal waktu yang terbaik: datang malam dengan menginap di bandara atau pagi hari dan langsung jalan.

04. Menginap di Phnom Penh
Menginap mau tidak mau harus dilakukan, seandainya anda besok pagi sudah terbang lagi tidak ada salahnya malam hari itu juga anda datang ke bandara untuk bermalam dan pagi hari langsung check-in. 

Pandangan malam menciptakan suasana yang berbeda

Namun kadang dalam traveling, tentu tidak ingin melewatkan menikmati malam hari di negeri orang. Suasana siang dan malam tentu berbeda, bahkan object yang sama dilihat siang dan malam pun bernuansa beda. Ambilah penginapan murah dan aman, disini anda bisa mandi dan sekadar merebahkan badan walau hanya beberapa jam. Saya yakin sebagai traveler, rasanya ingin jalan dan melek terus dan biasanya sekitar jam 2 pagi baru akan tidur. Jika penerbangan agak siang, anda bisa melakukan sedikit perjalanan tapi usahakan sudah mengarah ke arah bandara, kepandaian membuat rute perjalanan adalah seni tersendiri.

05. Phnom Penh - LCCT Kuala Lumpur
Pagi hari kita usahakan sudah memesan angkutan ke bandara, tidak selamanya mudah untuk moda transportasi menuju bandara di pagi hari. 
Seorang driver tuk-tuk mencatatkan nama & kontaknya
Untuk negara-negara berkembang semacam Cambodia tidak ada transportasi bus dalam kota, jadi hanya 2 pilihan; tuk tuk semacam di Bangkok atau taksi. Dan disini saya baru tahu masih ada pembebanan airport tax sebesar USD25, saya kira sudah disatukan sama harga ticket. Mahal juga saya kira aiportax-nya, untuk bandara sekecil Phnom Penh. Selama penerbangan tentu kantuk berat. Dalam perjalanan kalau saya cermati penumpang dari Cambodia ini juga diisi dengan semacam TKC (tenaga kerja Cambodia), saya lihat ada agen-agen yang berdiskusi sebelum dan selama penerbangan.

06. LCCT Kuala Lumpur
Jika ada waktu anda bisa mampir ke kota Kuala Lumpur naik bus, namun untuk berkunjung ke KL rasanya sudah ogah; tidak menarik, kecuali waktu itu kebayang mau ketemu teman tapi saya urungkan. Nah sambil nunggu balik ke Jakarta saya baca koran Media Indonesia yang kebawa sejak 2 hari lalu di dalam tas. Sampai habis semua iklan pun dibaca, hahaha...

Food Court di LCCT Kuala Lumpur

Sarapan pagi di LCCT yang halal, saking tidak ada option lain saya keliling ke semua LCCT termasuk gedung-gedung yang ada disampingnya. Mencoba kantin yang ada disayap kiri (menjauh dari pintu utama bandara). Rupanya tempat ini menyediakan makanan yang sedikit lebih murah dan tidak berisik. Standard makanan melayu ada padang, soto mie, teh tarik dan ada KFC juga di pojok. Saya pun ke mushola yang adem, satu lokasi sama kantin. Jadi kalau dihitung ada 3 mushola di bandara LCCT KL. Layaknya CSR (corporate social responsibility), saya selama di mushola ini merapikan Qur'an dan buku-buku yang ada di rak. Menata sajadah biar sedap dipandang. Istirahat dan saya pun tertidur. Terbangun dan sampailah saatnya check-in.

07. LCCT Kuala Lumpur - Jakarta
Akhirnya waktu check in tiba, dan anehnya saya masih menyetel jam standard GMT+7, layaknya di Cambodia. Pas enak-enak makan soup kok ada announcement kalau penerbangan saya sudah diminta boarding, alamak ini kan Malaysia, GMT+8. Dasar Malaysia orang satu garis ama Cambodia dan Indonesia aja pakai GMT+8, ya udah saya berlari-lari dan meninggalkan soup yang masih setengah porsi lebih. Ya sudahlah, akhirnya saya pesan nasi kuning selama terbang ke Jakarta, yang cocok banget ama tunanya itu lho.

Just a short travel, short time, and short story, 2 days in 2 countries.
Posting Komentar