Minggu, 17 Juli 2011

Merasakan berpuasa di Negeri Brunei Darussalam. Kena usir lho!

Brunei Darussalam, yang terbayang ketika disebut negara itu tentu kaya dan makmur. Negeri ini saya kunjungi tahun 2010 ketika bulan Ramadhan (bertepatan bulan Agustus 2010) . Kesempatan untuk mencoba berpuasa di negeri bermayoritas penganut Islam ini terbayang nuansa lain tentunya.

Tulisan ini pernah di-'sedot' di harian Republika pada tanggal 13 Agustus 2011, klik disini untuk detailnya.
  
Royal Brunei adalah tulang punggung maskapai Brunei
Turun di bandara yang namanya sama dengan negaranya, Brunei Darussalam Airport, sekilas tidak ada kemegahan. Bandara ini kecil cukup rapi dan bersih, berlantai 2 dengan sedikit sekali fasilitas. Beberapa pesawat milik Royal Brunei bergaris kuning hitam nampak parkir berjajar disebelah kanan bandara. Selebihnya ada pesawat AirAsia, dan Malaysia Airlines.

Tampak sekian slogan negara Brunei untuk memicu penanam modal asing menjadi tertarik terpampang besar-besar di dalam bandara.
Promosi wisata di bandara
Slogan & promosi investasi di Brunei

Naik angkutan umum atau taxi?
Tercengang ketika keluar dari bandara. Bagian depan bandara ini bak halaman rumah saja, sepi & kecil, tersedia jalan yang cukup mulus menghubungkan jalur keluar bandara. Penduduk Brunei semuanya mempunyai mobil tapi untunglah masih tersedia jalur bus dari bandara ke dalam kota. Anda tinggal belok kiri begitu keluar dari bandara dan sedikit menanjak untuk menunggu bus.

Saya ambil peta di bandara yang dibuat oleh salah satu penginapan, sama sekali saya tidak membawa peta negara ini karena memang kecil hanya berbekal ingatan dari buku Lonely Planet yang saya baca di bandara di salah satu toko Periplus Kuala Lumpur selagi menunggu boarding sebelum menuju Brunei.

Transportasi umum untuk keliling kota
Syukurnya untuk orang awam termasuk pendatang, masih tersedia bus umum berwarna ungu yang melayani beberapa jalur di Brunei termasuk dari bandara. Sepertinya tidak ada orang Brunei asli yang naik bus umum, mereka mempunyai mobil sendiri dan tentunya ditunjang harga bensin yang super murah dari Shell.

Saya menunjukkan peta untuk diturunkan di pusat kota Bandar Sri Begawan tempat saya akan menginap dan ternyata tempatnya dekat sekali dengan terminal bus. Yah namanya Brunei kecil mungil ibarat seluas sebuah kapubaten di Indonesia yaitu 5,765 km persegi.

Travel tips: Dari bandara Anda bisa naik bus umum tapi setelah pukul 18:00, bus sudah tidak beroperasi dan tentu Anda bisa naik taxi yang tergolong mahal tarifnya. Tarif bus tahun 2010 adalah 1 BND. Anda bisa menggunakan SGD untuk pembayaran diberbagai tempat.

Sepi, sangat sepi
Itulah yang saya rasakan ketika sesampai di pusat kota, di jalan pun jarang sekali orang berlalu lalang. Terpikir saat itu, mungkin inilah bulan puasa sehingga orang tidak banyak keluar rumah.

Pandangan jalan yang selalu lengang
Masjid adalah tujuan utama, setelah menaruh barang-barang serta mandi, saya cepat-cepat jalan kaki menuju masjid. Gila! Jalan makin sepi, jarang mobil lewat. Sangat-sangat sepi. Huihh ini kota atau bukan, itulah pikiran saya. Dan tidak seperti di Indonesia yang riuh rendah dengan speaker gede suara pengajian menjelang buka puasa. Sore itu benar-benar hening dengan sinaran cahaya merah di langit Brunei menambah suasana jadi berbeda sekali.
 
Masjid Omar 'Ali Saifuddien
Saya menuju arah Masjid Omar 'Ali Saifuddien. Tidak jauh, sangat exciting sekali karena saat itu suasana puasa dan tentu ingin berbuka di masjid negara di negara orang lain. Ternyata tidak hanya yang berpuasa yang datang ke masjid, banyak turis asing yang saya temui di jalan. Berkenalan sebentar, yang dari Jerman sangat heran dengan arti puasa yang saya terangkan, mereka heran soal menahan makan dan minum seharian selama sebulan. Sedangkan yang satunya dari Philipina, namanya Peter, Peter sudah tidak asing dengan puasa karena di negaranya memang ada sebagian muslim.

Kena usir!
Saat memasuki teras masjid, beberapa teman backpacker tadi diusir oleh petugas masjid. Terlebih mereka memakai celana super pendek. Memang di depan masjid sudah ada warning bahwa selama bulan puasa masjid ditutup untuk turis terlebih waktu itu menjelang magrib dan diteras samping-kiri sedang ada persiapan buka puasa.

Larangan untuk Non Muslim

Bahkan saya sendiri juga diusir, padahal saya mengucapkan salam dan tanya waktu magrib jam berapa. "Saya muslim Pak", teriak saya dalam hati. Tapi tetap rule adalah rule, saya harus mentaati karena saya pikir saya ini turis bukan dilihat ke-muslim-annya. Sabar, apalagi waktu itu puasa. Tidak ada yang disesali, saya ajak Peter untuk berkeliling ke sisi lain masjid. Bahkan saling gantian mengambilkan foto diri dengan background mesjid, hihihii... Peter bercerita selama travel di Indonesia, yang saya kenang adalah dia memberi point 10/10 untuk keindahan Gunung Bromo, Indonesia, yang dikunjunginnya beberapa bulan sebelumnya. Tentu saja Gunung Bromo memang indah, dan tentu saja pemilihan lokasi shooting film The Philosophers yang digarap George Zakk dan Cybill dari  Hollywood ini adalah salah satu pengakuan lain tentang indahnya alam Indonesia.

Menanti buka puasa

Saya berpisah dengan teman-teman backpacker karena memang mereka diusir sampai batas pagar masjid sedangkan saya tetap di area masjid berniat sholat magrib di masjid ini, dan tentu sedikit kecewa karena tidak bisa berbuka puasa bersama atau istilah di Brunei adalah "sungkai", saat itu saya terkenang dengan keakraban sahabat-sahabat di Masjid Al-Azhar, Jakarta yang hampir setiap buka puasa bersama selalu akrab dan tertib teratur.
Sungkai: istilah tradisional di Brunei untuk buka puasa. Sungkai diadakan di masjid dan didahului doa. Makan & minum ala prasmanan disiapkan oleh pemerintah dan penduduk setempat. Seperti di Indonesia, bedug harus dipukul sebagai tanda berbuka puasa bersamaan dengan waktu magrib tiba.
Akhirnya kumandang azan terdengar dari dalam masjid, tidak ada pengeras suara luar. Jadi tetap tenang dan sepi disaat waktu magrib tiba. Saya meneguk air yang saya bawa sembari duduk diteras taman tidak jauh dari pintu masjid sambil menatap lampu yang disorot ke kubah.

Siapa dia?
Oh ya entah siapa dia, ada seorang bapak menghampiri saya, sangat sederhana orangnya layaknya orang yang sudah akrab ketika menyapa saya. Dia duduk disamping saya dengan membawa minum dan makanan, kami akhirnya berbagi. Saat itu, layaknya puasa pada umumnya, saya tidak begitu lapar, cukup minum saja sudah lega. Tapi bapak ini membuka bungkusan dan saya tidak menolak untuk mencicipi bawaanya. Saya ingat betul bahwa itu mulia karena Insya Allah sang pemberi makanan akan menerima juga dari pahala puasa dari orang yang diberinya. Tidak banyak cakap karena kita segera berburu menunaikan sholat maghrib.

Shaf pertama tapi alamak 'gundul' sendiri
Kembali saking excitingnya saya memasuki masjid agung ini, saya pun cepat saja menuju barisan paling depan, shaf pertama untuk lelaki. Karena tidak ada ajaran dalam Islam yang didepan mesti pemuka agama, panglima, presiden, raja, atau sultan sekalipun. Semua berhak bagi yang sudah baligh dan harus dipenuhi terlebih dahulu barisan pertama.

Interior Masjid Omar Ali

Wuih, atapnya putih bersih bergaris lembut, rapi, beralas karpet tebal dan lembut, sangat dingin-nyaman di dalam. Masjid ini memang berlapis emas. Oh ya sholat di masjid ini selalu di-relay oleh radio pemerintah dengan mode streaming sehingga semua warga seluruh dunia bisa mendengarkannya.

Akhirnya sholat dimulai. Dan bacaannya cukup pelan dan fasih. Di Brunei selalu ada qunut ditiap sholat fardunya, pertama saya canggung untuk hal ini. Sholat berlalu dengan hening dan khusyuk, dan akhirnya pun salam. Pas usai salam kedua itulah saya baru sadar bahwa penduduk Brunei selalu menerapkan memakai tutup kepala dalam sholat. Hanya saya yang tidak memakai tutup kepala, tapi saya tetap yakin itu shah sholatnya. Ya...cuek is the best-lah, prinsip saya sejak kuliah dulu. Baca doa-doa yang lumayan panjang, termasuk doa-doa buat Sang Sultan. Saya tenggok ke kanan kiri dan belakang mencari orang yang menemui saya saat buka puasa tapi tidak berhasil.

Orang Bruneinya mana?
Setelah mengikuti doa-doa, saya keluar lebih cepat, saya pikir tidak akan tahan sampai sholat tarawih nanti jika saya masih dalam perut kosong, dingin ruangan akan melibas sisa-sisa energi selama puasa. Sekali lagi sangat sepi diluaran, diseberang ada KFC tapi nampak sangat hening saya pikir semula itu tutup. Lalu saya menuju ke semacam fried chicken resto yang saya lalui ketika menuju mesjid, disini pun sepi hanya 2-3 kursi yang terisi.

Saya kembali ke masjid, kala itu beberapa orang sudah bersiap sholat Isya. Nampak orang India, Bangladesh dan beberapa orang berparas Timur Tengah. Jika dihitung shaftnya tidak sebanyak di Masjid Istiqlal Jakarta, hanya 7-9 shaft saja, ini pun hanya mengisi tidak lebih dari 1/4 panjang masjid. Bagi orang Brunei nampak mereka memakai baju khas melayu, layaknya baju orang Riau atau Malaysia, ya namanya rumpun melayu. Cuma jumlahnya sangat sedikit, berdasarkan diskusi dengan pengunjung masjid, orang Brunei sendiri tidak banyak yang ada di masjid itu, bisa dipahami karena masjid di Brunei memang banyak dan bagus-bagus. Di masjid ini banyak orang Indonesia dan muslim Filipina cuma keduanya susah dibedakan secara wajah, sangat mirip.

Komplek Bangunan Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah

Setelah sholat tarawih selesai saya masih tetap didalam masjid, membaca beberapa ayat kitab. Dan bersyukur serta masih terkagum dengan desain masjid yang anggun. Akhirnya saya keluar masjid dan tidak ada kata capai, saya explore ke daerah sisi masjid yang ada KFCnya dan ternyata itu mall tepatnya Komplek Bangunan Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Ampun, mall ini saya kira tutup, ternyata buka tapi sangat-sangat sepi. Jadi KFC yang saya kira tutup sewaktu mau makan sore tadi ternyata buka juga. Oh Brunei, penduduknya hanya sebanyak sebuah desa di Indonesia, tahun 2011 penduduknya tercatat sekitar 401 ribu jiwa. Teringat nanti malam itu untuk bangun persiapan makan sahur maka saya putuskan balik dan istirahat.

Next ikuti tulisan soal Brunei di blog ini.....datang lagi ya 2-3 minggu ke depan:)
Posting Komentar