Rabu, 17 Agustus 2011

Untuk apa Anda mengatakan Indonesia belum merdeka?

Itu hanya mengecilkan bara semangat para pejuang kita dahulu kepada generasi kita dan yang akan datang.


Anda mungkin mengecam pemimpin negara namun pernahkan Anda bertanya:


Apa yang telah Anda lakukan untuk negara? Anda saja mungkin dari dulu bermalas-malasan untuk sekolah, membolos kuliah, sekadar mengejar selembar ijazah untuk tiket mendaftar parpol, sekadar pelengkap bukan sebagai pondasi karakter Anda dan ibaratnya tanpa ijazah Anda pun mampu untuk ikut ambil bagian mengisi kemerdekaan.


Berapa kali Anda mentolerir kesalahan-kesalahan kecil. Dalam pemilihan RT, apakah Anda memikirkan kemampuannya atau hanya sekadar karena saudara Anda sehingga Anda memilihnya atau karena tetangga dekat Anda?


Begitu juga dengan Lurah atau Kepala Desa, apakah karena lebih banyak uang sogokan yang menjadikan Anda memilihnya?


Berapa Anggota Dewan yang mandul yang Anda pilih karena mereka hanya punya hubungan kedekatan dengan usaha bisnis Anda tanpa punya rasa hati nurani kepada rakyat semesta.


Berapa kali Anda memberikan uang suap kepada panitia seleksi pegawai untuk memilih putra-putri Anda di masa lalu, padahal ada banyak calon yang lebih pandai, cakap, dan berintegritas daripada putra-putri Anda?


Sang Saka Merah Putih berkibar di salah satu gedung di kawasan Jl Sudirman, Jakarta


Berapa banyak Anda memilih para pemuka agama karena mereka terlihat lebih tersohor dengan mobil, rumah dan gemilang bisnisnya daripada seorang pemuka agama yang paham betul arti kesederhanaan hidup.


Berapa banyak kita gengsi, merasa lebih indah hidup di negeri orang, mencari pekerjaan kelas kasar, padahal peran Anda disana jauh lebih rendah daripada kehidupan Anda di Tanah Air?


Berapa banyak nikmat Tuhan atas pertanian, keindahan alam, keanekaragaman hayati laut negara tropis ini Anda sia-siakan?


Kita, Bangsa Indonesia, kadang telah lupa bahwa kebobrokan negeri ini karena Anda sendiri, lalu saat ini Anda berteriak "sial pemimpin negara ini" atau "mending si itu deh yang jadi presiden". Berhentilah!.


Yang benar adalah Anda berperilaku baik, jujur, dan berani. Saya akan mendukung Anda dan tanamkanlah ke kanan kiri Anda kebiasaan baik dan luhur, hentikan rasa gengsi yang tiada arti. Saya yakin Indonesia akan maju dan bermartabat!
Posting Komentar