Senin, 17 Oktober 2011

Sepenggal Jalan Menuju Nol Kilometer di Entikong

Entikong dan TKI adalah 2 hal yang hampir selalu bersamaan. Jalur darat TKI dari Jawa, Sumatera dan Kalimantan sendiri, jalur ini ibarat jalur sutra bagi mereka yang ingin menuju negeri Malaysia. Dan pada pertengahan Oktober 2011 sedikit ke arah barat dari Entikong terjadi perselisihan mengenai batas wilayah Indonesia Malaysia.

Jalan Trans Kalimantan
Bersamaan dengan bisnis trip di Kalimantan Barat kami berkendara searah dengan jalur menuju Entikong, jalur ini adalah bagian dari trans Kalimantan. Meninggalkan kota Pontianak yang panas menyengat walau matahari pagi belum sempurna cahayanya, ya namanya daerah khatulistiwa. Kami menuju arah timur menuju arah tengah-atas dari wilayah Kalimantan Barat. Tidak seperti jalanan di Jawa, jalan di Kalimantan selalu datar tidak banyak bukit dan lembah. Sebenarnya inilah keuntungan untuk membangun jalan, tidak akan banyak jembatan dan material tambahan karena jalannya bisa lurus dan tidak banyak sungai kecil.

Sang supir yang kebetulan sudah lama tinggal disana, tahu persis daerah yang kita lalui, dia bercerita segala pengalaman hidupnya di pulau ini. Ditemani cemilan buah langsat yang sedang musim dengan harga sekilo rata-rata Rp. 5000 rupiah  (di Jakarta lebih dikenal dengan buah duku), membuat suasana jadi makin enak selama perjalanan.  Selepas keluar kota Pontianak kami melintas jalur trans Kalimantan arah Entikong. Konon jalur ini adalah jalur terbusuk, berlumpur dan berlubang. Buruknya jalan ini juga diakui dari berbagai tulisan di media dan para blog-traveler. Seorang mahasiswa sekaligus teman blogger yang kuliah di Universitas Brunei Darussalam pernah bercerita hancurnya jalan ini dan ibarat langit dan bumi jika dibanding dengan jalur Sarawak-Brunei.

Makin hancurkah?
Jalur ini saat kami melintas sudah mulus dan benar-benar sedang tahap pembangunan sudah berbeda dengan cerita di media beberapa tahun lalu.

Lapisan aspalnya masih benar-benar baru, kanan kirinya jalan masih berserak kerikil bekas lapisan dasar. Memandang ke depan tidak banyak lalu lalang kendaraan dan sangat menyenangkan berkendara dijalur nan mulus serta tidak padat, apalagi terlalu sering dengan kebiasaan hidup di Jakarta, berkendara ditempat seperti ini memberikan inspirasi tersendiri untuk mengenang maha luasnya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.


Resistensi Warga dan Faktor Alam
Namun perlu diketahui bahwa membangun didaerah luas nan nampak sepi penduduk ini adalah tidak mudah. Penduduk masih suka menganggap tanah itu adalah tanah Tuhan yang turun dari langit untuk mereka. Sehingga saat ada pemakaian lahan untuk jalan banyak terjadi kendala, dan tentu saja mereka minta ganti rugi dengan harga yang tidak ketulungan mahalnya. Bisa saja jalan itu akan dicangkul jika ada yang kurang sepaham. Jadi disinilah kita menyadari bahwa tidak mudah membangun di negeri ini, selain kurangnya mental untuk mengalah demi keutamaan umum, juga tentu saja mental korupsi yang makin menjadi. Selain itu lahan gambut adalah tantangan tersendiri karena lahan ini kalau kita injak akan terasa seperti berada diatas matras, empuk dan tidak padat. Tentu saja faktor alam ini perlu biaya khusus dalam dana tambahan pembangunan.

View Larger Map

Diawasi Australia
Beberapa kilometer kedepan kami menemui jalan yang sedang dalam proses perbaikan, sedikit macet tapi wajar. Jalur ini benar-benar dibuat 2 lapis. Tebal. Tentu saja pengawasan pembangunan ini disupervisi oleh Australia, karena dana yang dikeluarkan didapat pinjaman dari Eastern Indonesia National Road Improvement Project (EINRIP), suatu project bantuan Australia.

Pembangunan prasarana jalan menuju Entikong
Tentu saja Anda berpikir kenapa negeri semakmur ini selalu saja mengandalkan pinjaman ya? Tapi mungkin saja ini lebih baik ada campur tangan luar sebagai fungsi pengawas, negeri ini ibarat berpenduduk tikus saja kalau tidak ada pihak asing.
Pihak Australia melakukan pengawasan pembangunan jalan
Pihak Australia suka mengadakan test secara acak dibeberapa lokasi untuk mengebor dibeberapa titik jalan, test untuk ukuran ketebalan dan kesesuaian standard yang ditetapkan. Kami juga menjumpai orang-orang Australia dan pihak Indonesia yang sedang berdiskusi disamping kiri jalan yang sedang dibangun, tentu saja dengan teriknya matahari khatulistiwa, semoga saja panasnya matahari membuat otak semakin encer guna kemajuan dan ketransparanan dana.

Kami berbelok, menuju suatu distrik di perusahaan kami. Kembali saya selalu berdecak kagum akan wilayah Indonesia yang maha luas. Saya tatap ke langit dari kanan sampai kiri, tidak ada halangan bangunan, yang ada hanya hutan nan luas diatas lahan gambut. Beberapa hutan ini digunakan untuk konservasi sedangkan sebagian digunakan untuk hutan tanaman industri. Kami melewati jalan perintis berkelok dan tidak beraspal, dan tentu berdebu. Kijang Innova di depan kami sempat terseok karena memang tidak cocok untuk lokasi seperti ini, berbeda dengan land cruiser double cab version yang kami tumpangi mampu menahan pijakan jalan yang tidak rata.

Akhirnya kami sampai semacam camp, sesaat sebelum membuka pintu kendaraan saya masih merenung tentang negeri ini, negeri yang luas dan kaya sampai akhirnya saya turun untuk menginjakkan kaki dan meraba tanah dengan tangan di pulau terbesar ke-3 di dunia, Borneo, dengan luas 743.330 Km².
Kibaran Sang Saka di depan camp
Kutatap Sang Saka Merah Putih yang tertancap di depan camp. Berkibar melambaikan kedaulatan Indonesia, namun lambaianmu mengingatkan kami akan titik 0 kilometer di Entikong. Titik nol kilometer, bisa berarti nol kemajuan, nol akan sentuhan pemerintah, nol akan pembangunan dan nol kilometer menuju Malaysia yang dimaknai bahwa mereka berada di teras negeri tetangga bukan teras negerinya sendiri.
Poskan Komentar