Minggu, 29 April 2012

Membangun Ibadah di Bukan Tempat Ibadah

Ada suatu kajian tentang agama di negeriku, ketika disimak tentulah ajakan kebaikan sesuai ajaran di kitab suci. Dan suatu saat Sang Guru bertanya ke audience, “Kira-kira Bapak dan Ibu jika punya uang cukup mau mendirikan tempat ibadah tidak?”. Hampir semua menjawab iya, tapi ada satu suara beda berkata “tidak”. Itu suara saya. Semua orang menoleh kediriku yang duduk agak tepi ujung depan, audience terheran, dan sebagian penuh dengan mimik rasa tidak suka, namun ada juga yang tersenyum.

Sang Guru bertanya: “Kenapa tidak kau lakukan hal itu?”, lanjutnya: “Akan buat apa danamu itu?”

Saya pun bertutur: “Maaf Guru, berapa banyak rumah ibadah dibangun di negeri ini, tapi tidaklah penuh tempat itu saat waktu beribadah tiba”. Suana hening, mungkin mereka membenarkan.

Saya mengambil napas dan melanjutkan: “Saya ingin menggunakan danaku untuk membuat lapangan sepak bola”. Terdengar tawa dari audience, saya melanjutkan alasannya: “Disana tidak hanya satu umat saja yang berkumpul, tidak hanya satu ras hitam atau putih, tapi keduanya”, saya tersenyum namun sedikit gemetar karena membicarakan lapangan sepak bola di dalam tempat ibadah.


Pertandingan Final Sepak Bola Indonesia vs Malaysia di SEA Games 2011
Namun pikiranku selama ini selalu terpaku; bukankah membangun lapangan sepak bola adalah ibadah. Berapa banyak air yang bisa meresap disitu, berapa oksigen yang bisa diproduksi dari rumput dan taman, dan yang terpenting nilai sosial antar manusia terbentuk.

Tulisan ini menjadi
highlight Kompasiana.com
Dan terlalu bermimpi saat itu, saya terpikir tim sepak bola Indonesia nantinya menang di pentas piala asia. Saya tersenyum membayangkan Indonesia Raya berkumandang, memang kadang terlalu jauh bermimpi.

Saya tersadar dan berbalik ke audience, dan kulihat mereka ternyata juga tersenyum. Lalu saya tambahkan: “Dan jika Bapak dan Ibu berkenan, bisa membangun tempat ibadah kira-kira satu kilo dari lapangan sepak bola, jika ada pertandingan kita semua masih ada waktu untuk berdoa dan beribadah”.

Seusai kajian, ada seorang dosen dari sebuah institut keagamaan mengajakku diskusi, tuturnya: “Masih sedikit orang memikirkan sisi lain, kebanyakan mereka terfokus pada kepentingan mereka,  padahal memikirkan kesejahteraan bersama itu perlu di negeri ini”, dia menepuk pundakku dan meneruskan tuturannya: “Dan itu tadi ajaran para Nabi juga”.


Posting Komentar