Minggu, 21 April 2013

Blusukan di Malaysia: Menjual minuman kuat untuk kuatkan Indonesia

Mungkin sebagian kita berkunjung ke Malaysia terpikir sekitaran KLCC dan Petronas Twin Tower. Hal tersebut pun sama dengan saya dulunya. Karena ingin tahu dengan sebenarnya apa yang ada diluar Kuala Lumpur kini saya membuat seri cerita yang bertema "Blusukan di Malaysia", tentu dari namanya akan bercerita hal yang benar-benar unik spesifik dan bisa jadi diluar kota yang Anda belum pernah kesana. Benar-benar mbulusuk macam Anda ke Tangerang, Serang, atau blusuk ke daerah perumahan Muara Angke. Dan maaf sementara kalau ada teman  yang mengajak ke mall di kota Kuala Lumpur saya mohon maaf, off dulu, karena akan blusukan ke luar kota.

Yes tujuan pertama adalah Padang Jawa, nama ini terinspirasi saat searching di google earth. Namanya unik karena adalah nama yang familiar di Indonesia. Padang Jawa sendiri terletak di selatan ke arah tenggara dari Kota kuala Lumpur kalau kisaranya dia terletak diantara bandara KLIA dan KL. 



Extra Joss di restoran Padang Jawa
Panas menyengat di bulan April 2013 ini betul-betul membuat perjalanan lekas haus, dan akhirnya kini saya mesti ke kedai makan di Padang Jawa. Kedai ini mempunyai lahan parkir yang luas namun bukan permanen tapi dianya adalah tanah bekas bangunan yang sudah dirobohkan. Bisa menampung lebih 20 mobil. Kondisi daerahnya serasa saya di Sumatera, depan kedainya masih ada pohon liar, tapi jangan salah, Malaysia memang membangun prasarana dengan baik dan tertata, pohon liar memang disisakan untuk lahan hijau. Shah Alam dimana Padang Jawa berada dikategorikan sebagai kota yang banyak pohon, saya sangat menyukainya.

Ayam penyet begitu yang terkenal kedai ini, semula saya tak yakin kalau ini punya orang Jawa. Yes, sambil memesan menu dan mengambil nasi terdengar percakapan dialog jawa antar pelayannya. Kini yakin bahwa Padang Jawa ini memang tinggalnya orang Jawa, ya orang Jawa dari Indonesia yang keren.


Awal mula juga saya bercakap bergaya melayu, tinggal di negeri orang memang memaksa saya menyesuaikan dialek, namun kini saya berganti dengan bahasa Jawa. Saya pun menyebutnya dengan "Mbok Dhe" untuk pelayannya...biar tambah akrab dan keren tentunya. 


Pesanan saya datang, si Mbok Dhe membawa saya baki besar berisi lebih dari 15 potong ayam, seperti layaknya ayam penyet di taruh di leyeh dengan sambal merah, dan ada timun dua-cuil. "Sampeyan sangking pundi Mbok Dhe"? tanyaku ke penghantar menu. "Seko Semarang Mas...lha sampeyan?" balasnya. "Saya cedak sampeyan lah" batinku dekat dari mana, yah yang pasti dekat kan sama-sama dari Jawa. 


Kini saya menikmati ayam penyet diatas leyeh kayu, dan sluruuuup minum jus. Tahukan Anda apa jus tadi, dia adalah extra joss yang diramu ulang dengan special mix dari kedai ini. Dan inilah yang menjadi daya tarik kedai ini. Kedai ini dulunya kecil kini sudah menempati tiga blok rumah ukuran besar. Parkir mobil (atau kereta dalam bahasa Malay) dan motor bike berjejeran disepanjang jalan. Ayam penyet sangat digandrungi di Malaysia dan Singapore, mereka menyebut dengat ucapan sedikit berbeda dengan kita di Indonesia, seakan-akan menyebutkan 'Ayam Penye' tapi itu lidah mereka, kalau kita tetap pakai 'penyet', karena benar-benar ayamnya rada dihancurin.

Ayam penyet tak tersisa, sedap rasanya

Mahasiswa & pekerja kantoran dari berbagai penjuru akan memburu extra joss anehnya banyak yang menyebut "Extra Juice" yeah what ever you call it-lah yang pasti itu extra joss salah satu obat kuat abang-abang Metromini di Jakarta. Hampir semua yang makan memilih extra juice tadi, dari yang rasa orange dan rasa anggur. Anak muda, mahasiswa dan mahasiswi pun sangat enjoy minum, dan sesekali mereka take picture dan share ke teman lainnya yang mungkin sedang di kampus. 

Yang menarik dari warung ini juga perkedel, yah perkedel kentang itu, entah bagaimana rasanya memang sedap. Semua yang makan sangat lahap dan kedai ini pun ternyata sudah direfer orang Malaysia menjadi tujuan makan  yang enak, coba saja Anda searching "Ayam Penyet Padang Jawa". Selain ayam penyet, menu pecel lele juga ada disini. Apapun saya bangga siang itu, salut bagi pendatang yang menang secara jiwa dengan membuka usaha sendiri. Padang Jawa memang mayoritas aslinya dulu dari Jawa, saya sendiri belum menemukan referensi alasan apa mereka tinggal disitu, lain waktu saya akan berkunjung kesini kembali. Kini saya pun membayar dengan hanya RM 5.50, terlihat bekas kertas bungkus extra joss dari label harga makanan siang itu. Extra Joss rosa rosa, kuatkan pendapatan orang Indonesia di negeri orang.

Ikuti serial Blusukan di Malaysia berikutnya:

Part II: Berganti Nama India, Retasan pada Account Bank


  
Posting Komentar