Minggu, 05 Mei 2013

Blusukan di Malaysia Part IV: Kita pun Butuh Mereka, Para Keturunan China

Travel bagiku adalah menimba hal yang berbeda, melihat dan memahami cara orang berpikir, menyesuaikan dengan adat sekitar dengan cepat, dan respect pada local people.

Bus berhenti, sedang tujuan saya masih arah depan yang lumayan jauh. Saya turun dan memberi tahu bahwa saya tidak lanjut dulu ke Singapore. Kini saya turun beberapa kilometer sebelum masuk Johor Bahru, kota yang sangat prospek dalam pengembangan properti, letaknya yang dekat dengan Singapore tentu menjadi hal yang unik. Kemajuan pesat dibandingkan beberapa tahun setelah kedatangan saya di Johor Bahru adalah dibangunnya Kota Iskandar, bangunan tua model china masih banyak disini.

Minum di kedai kopi adalah kegemaran saya, dari situ biasa saya dapat bertemu dengan siapa saja, orang local maupun asing. Kali ini teman saya adalah sopir taksi, ini orang melayu asli dia sudah cukup tua untuk ukuran tukang taksi. Taksinya pun sudah usang, tempelan beberapa sticker di kaca depannya pun sudah mulai kabur. Terlihat sedikit jelas ada tulisan "One Malaysia" di salah satu stickernya.  Meskipun sudah lanjut usia, namun saya memilih dia untuk bercakap, dia pun memanggil saya dengan sebutan adik. Memang saya tetap nampak imut dan lucu 14 tahun kebelakang, pikiran saya sambil berkaca pada layar cermin gadget.


Taxi Driver penduduk asli Melayu

"Adik nak kemane" awalnya dia bertanya.
"Nak ke Batam ni..." jawabku
"Tapi boleh ke encik hantar saya pusing bandar, esok lah saya nak ke Batam" lanjutku.
"Boleh-boleh...boleh kena tunggu sekejap ke?" lanjut dia sambil menghabiskan minum kopinya.

Saya memancing pertanyaan dengan masalah pilihan raya malaysia, karena harapan saya adalah saya ingin melihat dengan dekat seperti apa pilihan raya di negeri tetangga. Memang dengan penduduk yang hanya 13 juta pemilih ini sangat berbeda, tidak seperti di Indonesia yang sangat riuh dan banyak tawuran antar party, disini juga ada namun lebih banyak bersaing dengan argument secara online. Bahkan 3 juta pemilihnya adalah pemilih mula yang disebut internet-aged, dimana mereka seperti kaum cerdas di beberapa kota besar di Indonesia, yang akan memilih dan membawa pada dugaan lain pada hal yang biasa masyarakat pikirkan.

"Encik nak pegi undi tak ni hari?" maksud saya kalau iya saya pun mau ikut.
"Siang sikit...nak hantar adik dulu lah pusing bandar. Macam pagi ni, queu panjang tak selesa ah" jawabnya, yang memupuskan harapan saya untuk mendekat ke tempat pemilihan secara aman.

Dia pun tahu saya dari Indonesia, karena emang logat saya masih belum bisa meng-adjust bahasa melayu terutama kata yang cepat menebak kita dari Indonesia adalah: putar, nggak, bisa. Karena kata 'bisa' sudah terbiasa di negeri kita sedangkan di Malaysia akan digantikan dengan kata 'boleh'. Sedang 'bisa' di Malaysa hanya merujuk pada bisa ular.


Masyaraka Malaysia dasarnya dekat dan respect kepada kita, memang citra TKI sangat mencederai dan seakan-akan itulah watak Indonesia. Selama kita menjadi kaum yang profesional, lembut, dan tidak melebihkan diri mereka akan senang.

Pembicaraan dengan supir taksi ini pun membahas bagaimana Malaysia bisa lebih maju, saya sangat hormat pada paparan sopir taksi, karena bagiku dia adalah wakil masyarakat malaysia kelas yang tidak elite, rakyat biasa. Saya meminta untuk menuju jalur yang sepi, jalur yang masuk ke komplek-komplek. Sopir taksi menyetujuinya, saya pun tidak memikirkan argo yang terus berjalan, karena supir taksi ini enak diajak tukar pandangan.

Kata yang masih saya analisa dan saya pun membenarkan analisa itu ada di Indonesia adalah:

"Orang melayu ni, kalau tak de (tak ada) orang china tak berjaya lah...."

Sepintas saya terbayang Kawasan Glodok, Indonesia, mendengar tuturan sopir taksi tadi. Dalam buku 'A Doctor in the House: The Memoirs of Tun Dr Mahathir Mohamad' yang saya baca, hal tersebut pun sudah diakui oleh Dr Mahathir sejak lama, banyak orang melayu membenci kaum China tapi banyak pula ketika membangun (dalam bahasa Malaysia, membina) sebuah property banyak orang melayu berkongsi dengan kaum China. Sedangkan Singapore sendiri terpisah juga karena perbedaan rasial, namun dia bangkit maju luar biasa. Dan kini sebahagian orang Indonesia juga menikmati kemakmuran bangsa itu. Namun lambat laun seiring dengan kemajuan yang dicapai bersama tentu ketidaksukaan itu sudah berubah. Mereka bisa bersinergi bersama untuk hidup nyaman sejahtera. Mungkin kerikil kecil kadang masih berasa namun susunan cabinet pemerintahan pun nampak sudah dikombinasi sesama ras.

Kini saya terpikir dengan negeri kita, banyak dari kita juga membenci antar kaum, antar ras. Kadang merasa hebat diantara ras kita, enggan untuk bergaul sesama dan menaruh kecurigaan yang berkelanjutan. Senang melihat sisi buruk, dan memudahkan kata 'kafir' dalam kehidupan beragama. Sisi mana yang mereka pakai? Sedangkan Tuhanmu juga sudah menyebutkan "Kenalilah mereka, karena Kami telah turunkan beraneka ragam ras dan suku bangsa". Hukum alamiah keberanekaragaman umat manusia. Selama kita berpikir pada pola yang kita miliki sendiri, maka tentu kehancuran akan datang, apa yang Anda pikirkan akan menjadi basis apa yang Anda lakukan.

Maka sahabatku, ubahlah keadaan dan jadilah agent perubahan, carilah dan hijrahlah kemana kebaikan itu ada, janganlah kamu menjadi kaum yang berdiri di satu tempat, tidak akan ada yang namanya benchmarking. Andai Anda di tempat atau suasana lain itu menemui kesulitan atau kesalahan, jangan takut, itu adalah awal dari kebijaksanaan. Jangan takut meninggalkan keadaan yang sangat nyaman yang dirasakan saat ini, karena itu belaian untuk melenakan kita pada kemajuan.  Lihatlah dan belajarlah sampai ke negeri China, tutur Rasulullah. Dan tak lupa temuilah perbedaan, karena ia mengindahkan hidup kita.

Serial Blusukan di Malaysia lainnya:
Part I: Menjual minuman kuat untuk kuatkan Indonesia
Part II: Berganti Nama India, Retasan pada Account Bank
Part III:
Antara Teh Tarik dan Es Teh Manis

Versi lengkapnya ada kllik saja disini Blusukan di Malaysia.
 
Posting Komentar