Sabtu, 18 Mei 2013

Blusukan di Malaysia Part V: Janganlah ‘lebay’ dalam Beragama


Tulisan ini sedikit dipengaruhi oleh kondisi per-partaipolitik-kan di Indonesia saat artikel ini ditulis, saya tidak membahas apa yang terjadi di Indonesia namun menganalisa dan belajar sesuatu yang saya dapat ketika blusukan spiritual di Malaysia. 

Tempat ibadah di tepi jalan
Setiap pagi saya keluar dari condo tempat saya tinggal pada jam dan menit yang tidak banyak berbeda. Tentu security guard adalah orang yang selalu pertama kali saya sapa untuk keluar dari condo, mereka dari negeri tetangga lain dari Malaysia rata-rata dari sekitaran Pakistan, Nepal. Setelah itu saya akan melewati sebuah tempat dari show room besar mobil buatan Jepang. Test drive dari mobil versi baru pun pernah saya coba, ya namanya juga bertetangga dengan condo tempat saya tinggal, para petugas dari keturunan Bangladesh pun sigap dan penuh respect ketika saya mencobanya, masalahnya mencobanya tidak hanya sekali kadang tiap hari sabtu minggu dengan mobil yang berbeda. Dia adalah teman-teman saya, tetangga saya tepatnya. Hidup di sini berbeda dengan kondisi di Depok, dimana saya tinggal dalam cluster terbuka; tetangga, anak kecil, kucing dan kelinci bisa bebas main ke taman rumah. Asik pokoknya. Ketika tinggal di condo saya kehilangan segalanya, bak tiada tempat untuk sosialisasi, masuk lift lalu keluar dan masing-masing menuju unit terus dikunci itupun dikunci 2 kali, yang pertama kunci utama macam gerbang lalu kedua kunci pintu. Astaga, mana ada orang macam burung dara!

Pergi kerja pagi seperti hari-hari biasa, namun tiap pagi saya selalu menghisap asap hio, ya tiap pagi di pojok jalan pasti ada orang yang sedang sembahyang dengan dupa dan memberikan sedikit ‘sesajen’ makanan atau minuman, mohon dibenarkan atas istilah ‘sesajen’ karena saya tidak tahu apa itu sebenarnya. Saya pun tetap menyapa orang-orang yang antri buat sembahyang, awalnya dari senyum lalu kini saya dengan senang berucap “Hi morning….”. Kadang pun mereka duluan yang menyapa saya…dengan senyum yang segar dari wajah yang jauh lebih putih daripada kulit saya, dari para keturunan Tionghoa ini. Mereka kenal sangat dengan saya, ketika masih jauh pun kadang ada yang melambaikan tangan, saya kadang membalasnya terlalu lebay juga sehingga pada suatu saat ada taksi berhenti karena lambaian itu.

Apa yang saya pikirkan saat itu bukan pada mereka yang sembahyang, saya terpikir pada pemerintahan dan warga negeri dimana saya tinggal saat ini. Mungkin saja jika bangunan tempat sembahyang tadi ada di pojok sebuah jalan di Indonesia sudah pasti akan dirobohkan, mungkin pun ditendang-tendang atau minta dipindahkan ke jauh di sudut tempat yang tidak mudah dilihat orang. Padahal di daerah saya tinggal ini adalah bagian dari Malaysia yang hukum Islamnya ketat, demikian juga penuturan para warga dan teman-teman kantor client tempat saya mengerjakan project. Bahkan dalam gerai dan kedai tidak akan ditemui minuman bir kadar rendah alkoholnya sekalipun. Dilarang dijual, itu aturannya.   

Kematangan dan sifat terbukanya warga M’sia dalam beragama menurut saya adalah hal yang indah. Memang tidak sedikit tempat-tempat ibadah didirikan selain tempat ibadah muslim, dibangun macam untuk keturuan India, Cina dan tentu Melayu sendiri. Dalam sehari-harinya saya pun merasakan indah dan teman saya yang keturuan India yang masih memakai titik merah di dahinya pernah mengingatkan saya dalam suatu sarapan pagi bersama: “Hi Wahyu, you belum baca bismilah kan?” Tentu diikuti gurauan dari teman-teman lain.
  
Di negeri kita sering sekali terjadi konflik agama, karena kita terlalu fanatik terhadap agama dan ras kita sendiri, membatasi pergaulan karena perbedaan, dan tulisan ini adalah sudut pandang saya tidak mewakili siapa pun, bahkan dalam kehidupan beragama pun kita lebih sering ditanamkan sisi yang dianggap jelek di agama lain. Kita sibuk mengurusi dan menelusuri apa yang bisa menjatuhkan agama lain tapi lupa apa yang semestinya dikerjakan oleh agamanya sendiri. Dan banyak perwakilan yang mengatasnamakan agama tapi bertindak sangat anarkis, di jalan bisa menutup jalur dengan bebas bahkan sebagian besar naik motor tanpa helm.


  

Dan yang hebat lagi ada semacam perlombaan mengumpulkan pemeluk, mungkin ingin keliatan besar dan menyatu, sehingga macam stadion olah raga terbesar di Indonesia pun dibuat untuk berkumpul namun mereka lupa bahwa stadium itu adalah tempat berolah raga yang seharusnya tanpa memandang suku dan agama, mereka berlatih bersama untuk menuai medali emas di perlombaan besar dunia untuk Indonesia. Kita lupa itu, lebih lebay pada mendatangkan pembicara yang keliatan hebat atau sekadar mengibarkan bendera suatu organisasi biar keliatan banyak dan menyatu. Kita lupa pada sesuatu yang harusnya berwawasan kebangsaan, menyatukan satu negeri dengan segala perbedaanya. Kita lupa jika kita hanya bekerja sendiri tidak akan dicapai kemajuan bangsa. Kita pun terlalu naïf, tidak pernah melakukan benchmarking, tapi mudahnya menganggap jelek sesuatu di kaum lain.

Ketika bertemu sesama agama kita selalu diajak berargu pada sesuatu yang berbeda dalam agama masing-masing, konyol tentunya, namanya juga ajaran tidak usah ditanyakan pun pasti berbeda, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Tapi sejak kecil kita banyak dihadapkan pada yang demikian, orang yang lebih tua masih ada yang menitipkan hal demikian di hati kaum muda, harusnya itu diakhiri dan ditanamkan bahwa agama itu berbeda ajaran, dari namanya saja sudah berbeda pasti ajarannya berbeda.


Bagiku di negeriku tidak perlu dilihat banyaknya tempat ibadah, dan tidak perlu ditotal berdasar populasi umat, namun yang diperlukan seberapa besar umat agama masing-masing menjalankan agamanya, disitu ada nama Tuhan, Tuhan tidak pernah menyuruh melukai makhluknya, sekalipun kepada hewan dan tumbuhan. Bacalah kitab murni ajaran Tuhan. Intinya kita berusaha menjalankan agama secara sempurna, bukan menjalankan agama secara lebay, sehingga pemerintahan negeri kita yakin bisa maju karena agama bukan kedok lagi, nilai spiritualnya akan memutar dan mengarahkan hati pada kebaikkan. Maka janganlah kamu beragama secara ‘lebay’.

 
Posting Komentar