Sabtu, 31 Agustus 2013

Blusukan di Malaysia Part VII: Perjalanan ‘ilegal’ ke Negeri Sendiri

Pagi hari saya mendarat di Tawau, seperti biasa walau saya tinggal di KL semua penumpang harus melalui imigrasi walau masih dalam satu negara. Passport pun di cop, sedikit ditanya mau berapa hari? Saya katakan semalam saja.

Bas mini adalah transportasi umum di Tawau Airport menuju kota

Saya keluar mencari bus airport yang memang unik bentuknya. Nasib baik saat menuju counter ticket terus ada bus, saya pun naik. Dan Hanya 2 orang saja yang naik. Selain itu ada 1 penumpang kecil yang rupanya anak sang driver. Saya memberikan minuman kotak ke dia, tanda persahabatan selama perjalanan.


Masjid Al Kautar terletak di tepian pesiaran dan pantai

Kota Tawau sangatlah kecil namun seperti umumnya prasarana di semua kota memang tertata rapi, saya acungi jempol untuk Kerajaan Malaysia yang membuat jalan, tempat ibadah, dan bangunan kota serta perumahan dengan terstruktur hampir di semua tempat.
Tawau adalah tujuan saya menghabiskan semua destinasi yang ada di Malaysia bagian timur, atau mudahnya semua bagian Malaysia di bagian atas Pulau Kalimantan. Eksplorasi tempat ini untuk memberikan gambaran sepenuhnya bagi saya sendiri tentang batas Indonesia-Malaysia dan culture yang ada, dan khusus ke Tawau ini ada satu hal unik yang saya akan pelajari disini yaitu kedekatannya dengan batas negara di Pulau Sebatik, pulau yang dalam berita beberapa tahun lalu saya selalu dengar nama pulau ini.


Pasar ikan di Tawau

Hari pertama saya habiskan untuk jalan di semua Kota Tawau bermula sarapan bagi di pasar ikan, dan berakhir malam hari di pasar malam. Cukup satu siang Anda bisa berkeliling ke semua kota. Banyak durian, duku, rambutan yang dijual sebagai buah local.

Culture disini mirip dengan di Indonesia, karena memang sebagian besar penduduk local keturunan melayu ini berasal dari orang Bugis. Bugis memang terkenal dengan explorernya, saya kagum dengan histori orang bugis ini. Semoga kalian Indonesian, mengenang begitu digdayanya orang bugis dalam menempuh ekplorasi laut yang sampai Singapura pun memberikan landmark tersendiri Bugis Junction. Selama saya berjalan banyak ditemui bahasa local yang saya tidak paham, ketika saya tanyakan memang itu bahasa Bugis.

Siang itu hari sabtu, saya ke counter tiket kapal ke Nunukan sambil menyodorkan passport, saya hanya adu nasib kalau masih ada saya jalan ke Nunukan, Indonesia. Dikabarkan ada tiket ke Nunukan namun kapal baru balik hari Senin, padahal saya Minggu siang sudah harus balik ke KL, ini tidak mungkin. Memang perjalanan kapal cepat ke Nunukan-Tawau tidak ada di hari Minggu. Urung sudah tapi nama Sebatik selalu terngiang, dan memang ketika duduk di tepian dermaga Tawau, pulau ini terlihat jelas. Bahkan sebelum pesawat mendarat, akan melintas di atas pulau ini.


Barang hasil alam dari Pulau Sebatik dibawa ke Tawau 


Saya pun ke dermaga menyatu dengan orang lokal, sembari mempelajari culture. Disini banyak hasil pertanian dibawa dari Pulau Sebatik dan begitu kapal balik akan membawa tabung gas dan juga jerigen berisi bahan bakar.


Tampak pulau dalam gambar adalah adalah Pulau Sebatik


Saya pun bercakap-cakap dengan calon penumpang yang mau ke arah Pulau Sebatik. Saya pun mengutarakan jika saya mau ke Pulau Sebatik tapi saya pun tak tahu Pulau Sebatik bagian mana yang saya akan tuju, ini gilanya! Bahaya atau tidak? Semua orang itu sudah ada tujuan, sedang saya tidak tahu mau ke mana bahkan tujuan itu apakah bagian Malaysia atau Indonesia.

Tahukan Anda, bahwa Pulau Sebatik adalah pulau yang terbagi menjadi 2 bagian bagian utara adalah dalam wilayah Malaysia dan bagian selatan adalah dalam wilayah Indonesia. Ini baru saya sadari setelah sekian tahun hidup di Indonesia. Bahkan terakhir kali saya tanyakan ke teman Indonesia yang sedang di KL mereka juga tidak tahu bahwa dalam Pulau Sebatik ada 2 negara didalamnya.


Karena pertemanan sesaat di dermaga itu saya mendapat tawaran:

  1. Dua orang pemuda yang benar-benar masih muda seusia SMU-lah menawarkan ke rumahnya di Pulau Sebatik, dia punya kapal motor sendiri. Dia datang ke Tawau untuk belanja kaos olah raga. Saya percaya dia baik, dia masih melambai-lambaikan tangan ketika kapal motornya sudah mendorong kapalnya meninggalkan dermaga. Saya masih ingat tawaran dia, dia mengajak ke rumahnya dia pelihara buaya katanya, saya bisa melihatnya nanti. Dia juga akan mengajak jalan-jalan serta memetik buah duku di ladangnya dan besok akan balik ke Tawau di pagi hari sekalian saya dihantar.
  2. Seorang Ibu dari bagian keluarga yang mau ke daerah Pulau Sebatik. Dia tidak paham kalau saya orang Indonesia karena logat saya yang sudah saya ‘adjust’. Dia malah mengatakan: “Dari semenanjung ke?”. Ya, semenanjung artinya West Malaysia seperti Kuala Lumpur. Dia punya usaha sawit, tawarannya adalah menginap di saudaranya bersama kami semua nanti. Kedatangan ke Sebatik adalah untuk mengunjungi hajatan pernikahan saudaranya. 
Kala itu sudah sore, saya membayangkan besok pukul 14.00 saya sudah harus balik ke KL melalui Tawau airport. Kalau tidak bisa balik bagaimana? Kedua tawaran tadi menjamin saya bisa balik, ada kapal yang bisa disewa.

Tapi tetap ini masuk ke negara mana saya belum tahu juga, akhirnya saya putuskan tidak mengambil keduanya. Ibu itu pun masih memastikan bahwa saya bisa mengejar pesawat besok pagi sampai detik akhir sebelum naik ke kapal. 

Sore itu juga, saya artinya menginap di Tawau. Pagi hari buta saya berniat ke dermaga lagi, karena semalaman saya pelajari jalan ke Sebatik. Kini saya dapat tawaran kapal kecil tapi cepat menuju Sebatik. Sebenarnya perjalanan ini gila saja, siang ini juga saya harus balik ke KL melalui Tawau. Kapal tidak terus berangkat tapi menunggu sampai penuh 4 orang, menunggulah saya. Saya tidak tahu juga ini bagian Indonesia atau Malaysia yang akan dituju yang penting naik saja memenuhi hasrat menjejakkan kaki di Pulau Sebatik. Dari bahasa yang diucapkan pun kurang paham, terdengar ada “Aur Kuning”, karena saya terimpact nama ini adalah tujuan di salah satu sudut Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Tapi satu hal yang saya ingat bagian dermaga yang milik Indonesia adalah Sungai Nyamuk. Saya pun memilih Sungai Nyamuk.

“Ada IC atau passport” kata nakoda kapalnya. 

Saya pun mengatakan ada, namun saya tahu kantor imigrasi itu ada di darat dan itu terletak disedikit jauh, tepatnya dekat pasar ikan. Dan kantor imigrasi ini tutup jika hari minggu. 

Saya sendiri tidak yakin bisa masuk ke Indonesia tanpa cap di passport, itu ilegal. Atau bisa berurusan dengan imigrasi Indonesia sendiri nanti ketika saya terlambat dan harus terbang melalui satu bandara di Kalimantan untuk balik ke KL. 


Boat meninggalkan Tawau menuju Pulau Sebatik
Pukul 08.15 pagi kapal berjalan, khawatir sekali waktunya tidak cukup. Saya memberikan passport di tengah laut, ternyata 2 orang penumpang lain adalah warga Tawau, dia menyodorkan IC saja. Agak ke tengah ada kapal milik Polis Malaysia, saya tidak akan memotret apa pun disini. Ini sudah standard traveler. Pembicaraan antar nakoda dan polis terjadi, tentu routine check. Passport dikembalikan dan saya check apakah ada cap atau tidak? Ternyata tidak ada, memang betul itu kan kantor kepolisian bukan imigrasi. 


Dermaga pelabuhan Sungai Nyamuk, Sebatik Indonesia
Saya masih tidak yakin bisa masuk ke Indonesia nanti, kapal terus berlabuh cepat. Anak buah kapal mencopot bendera Malaysia di kapal itu, dia masih sangat muda, dan memainkan bendera itu dengan mengibar-ngibarkan ke udara. Sedikit membuat saya tenang seperti perjalanan yang tadinya tegang. Bendera pun dililit dan diikat. Ini pertanda bahwa sudah memasuki kawasan batas, dan kini berada di perairan Indonesia. Tidak jauh ada dermaga sederhana, kapal berhenti dan nakoda menarik passport kami lagi untuk diberikan ke Polisi Indonesia. Tak lama ada pembicaraan dan kontak by telepon entah laporan kemana sang nakoda. Passport saya pun di kembalikan dan turun dan menuju dermaga di Sungai Nyamuk, Pulau Sebatik. 

Kantor pemeriksaan kedatangan dari Tawau di Sebatik Indonesia

Inilah di Indonesia, perjalanan itu ilegal atau tidak saya masih bertanya-tanya karena keduanya lewat pengawasan penjaga 2 negara. Dermaga ini cukup kecil, sangat kecil dan sederhana. Semua terbuat dari bahan kayu tidak ada yang permanen. Inilah pintu saudara-saudara kita di Pulau Sebatik untuk menuju negeri jiran. 

Laut yang sangat tenang di dermaga Sungai Nyamuk, Sebatik Indonesia
Kupandang Tawau dari dermaga itu, yang nampak bangunan jangkung apartment di tepi laut. Tapi inilah negeriku, pulau negeri ku. Pulau terluar yang berada di utara yang berbatas langsung negara lain. Terharu, bisa menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di pulau terluar batas negara dengan pandangan sekeliling air laut yang sangat tenang.

Saya berkunjung ke warung yang ada di dermaga itu, minum air mineral Aqua, kopi ABC, dan makan sop buntut (karena di Indonesia sebutannya jadi sop buntut, bukan sop ekor). Nampak di dermaga itu ada money changer berjalan, ada orang menawarkan penukaran MYR ke IDR atau sebaliknya. Petugas polis dan angkatan laut pun bersarapan pagi di warung itu, sekilas membicarakan penjagaan diperbatasan di tempat lain. 

Next artikel akan saya terbitkan cerita 3 jam pengalaman di Sebatik, Indonesia dimana termasuk pengalaman saya diinterogasi polisi Indonesia.

Versi lengkap blusukan di Malaysia Anda bisa layari di link berikut: Blusukan di Malaysia.
Posting Komentar