Jumat, 04 Oktober 2013

Blusukan di Malaysia Part VI: Cinta dari Moskow & Taxi Driver


Berkunjung ke KBRI Kuala Lumpur sejenak seperti di Indonesia yang sebenarnya, nampak persis disebelah kanan gedung ada tempat tenda-tenda biru dan yang dijual pun bakso. Tak lepas juga tulisan 'Photo Copy' yang di Malaysia sendiri sebenarnya 'photostat' nampak terpampang di papan yang digantung-gantung. Lagi, sekian warga Indonesia menunggu kantor kedutaan buka selepas rehat siang di warung-warung tenda itu dengan segala bahasa daerahnya muncul dan berkumpul dari segala profesi.

Ini kali pertama saya ke KBRI Kuala Lumpur ada hal yang saya perlukan, memasuki ruang untuk ambil antrian terlihat betul-betul suatu culture kita. Apaan? Kagak bisa antri, itulah saya terheran-heran, saya sudah membuat antrian dibelakang orang tidak tahunya diserobot. Ini hanya masalah pagar, di depan naik taxi kita antri tapi begitu masuk rumah negeri sendiri hilang sudah. Tapi tak selamanya, ada warga Indonesia keturuanan dibelakang saya senyum melihat cara seperti ini dan dia tetap antri sampai saya mendapatkan nomor.

KBRI KL pelayanannya bagus, foto kopi disediakan secara gratis, tinggal bilang mau urus hal apa lalu kasih passport dan document lain mereka akan membuat salinan sesuai keperluan. Saya sekaligus mengantri 2 counter yang berbeda, dan cukup ramah dan friendly petugasnya. Seperti kenal sudah lama terlebih memang untuk satu counter yang saya tuju ini peetugasnya sangat dekat dengan teman-teman yang bekerja di bidang konsultan SAP. Belum lagi selesai, counter lain memanggil, saya pun minta ijin untuk ke counter lain dulu. Disini pun cukup sopan dan cepat, saya katakan bahwa passport asli sedang diproses di counter lain, petugas cukup mengerti dan tak lama proses selesai, namun karena sudah agak sore surat dari KBRI baru jadi besok. Tidak apa saya datang lagi.

Oh ya satu hal di KBRI KL ini tadinya saya bayangkan akan masuk ruang bersekat dan dijaga seperti ketika saya masuk ke Kedutaan Amerika, yang KBRI kita ini semua dikumpul dalam satu ruangan. Emang beda, yang disekat-sekat pasti banyak lawannya, yang tanpa sekat tentu lebih ramah banyak kawan. Begitulah!

Saya menuju pintu keluar dan duduk di bangku-bangku, yang teryata diluar masih ada counter lain yang cukup sibuk, beginilah urusan di KBRI KL yang tentu jumlah WNI banyak yang tinggal di negeri ini.

Ada orang yang saya yakin bukan orang Indonesia asli dia menyapa dengan bahasa Indonesia yang khas logat luar:

“Mohon maaf….bisa tolong kasih tahu bagaimana pergi ke airport dari sini”

Dengan senang hati saya buatkan route yang sebelumnya saya pun tanyakan apakah mau ke LCCT atau ke KLIA.

“Oh tentu, saya buatkan route yang paling pendek lagi murah…”

Dia pun senang dan tersenyum. Sambil saya mencari kertas yang saat itu kagak ada, akhirnya dengan meminta maaf saya memakai kertas bungkus selebaran yang diterbitkan KBRI.

“Ini routenya…. Hire taxi and ask driver to drop at Ampang Park station. It’s about 5 ringgit“

“Lepas tu…get off from train at KL Sentral station, exit terminal building and next…down stair to ride bus to LCCT”, sembari saya membuat route di kertas.

Kertas bergambar route itu pun disimpan. Akhirnya kami diskusi dan ternyata Ibu ini dari Moskow. Saat disebut Moskow saya mengajak diskusi tentang kenangan Soekarno di negeri tersebut. Diskusi berlanjut dia pun mengatakan kedekatan Indonesia dan Moskow, dan suami saya orang Indonesia itu adalah ‘buah cinta Indonesia-Moskow’, dia menyebut dengan istilah yang membuat saya tersenyum lebar.

Bahasanya cukup bagus, karena saat ini dia tinggal di Indonesia dan kedatangan ke Kuala Lumpur adalah untuk mengurus visanya di Indonesia setiap 6 bulan.

Malah dialah yang bertanya balik: “Tapi kamu orang Indonesia kan, bahasanya seperti orang sini, bahasa Malaysia”

Aih tobat memang kadang lingkungan membuat perubahan bahasa, ya dimana tempat saya harus menyesuaikan. Dulu waktu project di Riau karena saya suka bekerja dengan orang HR yang dari Padang saya pun sedikit fasih berbahasa Padang sampai suatu saat tukang durian dari Padang pun memberi harga khusus karena dikira saya orang padang asli.

Saya pun membalas: “Dimana tempat, kita harus meng-adjust culture…depends on country where we are staying”

Dari jawaban ini pembicaraan makin asik, nampak dia adalah orang yang bisa menyesuaikan culture. Dia menyetujui. Intinya dia menegaskan semakin banyak kita berjalan di tempat lain, kita akan menjadi lebih bijak, pandai menyesuaikan dan open minded.

Saya katakan: “Saya senang mencoba untuk berkunjung ke tempat atau negara yang tidak sesuai dengan agama dan culture negara saya”
 
Dia pun menerangkan: “Saya senang Indonesia, orangnya ramah….suka menolong”

Dan, lanjutnya: “Suka memberi senyum….”

“Kalau di Moscow orangnya muka selalu serius, kalau ada senyum berarti dia ada makna tersembunyi atau maksud tertentu”

Kami bercerita lama soal traveling, pahit getir perbedaan social dan akhirnya dia pun menyarankan: “Kenapa tidak dibuat buku pengalaman hidup kamu…”

Plak! Berasa diingatkan berapa kali oleh orang lain untuk membuat buku. Saya pun menjelaskan ke dia sebelumnya ada satu publishing di Indonesia menghubungi saya untuk dibuatkan buku dari gaya tulisan saya yang menurutnya khas & menarik.

Dia meminta saya untuk menuliskan website pribadi saya sambil membuka buku note dia. Ketika membuka note-nya ada lukisan draft, bergaya naturalis. Saya berhenti di halaman itu sebelum saya menorehkan alamat website ini di halaman lain.

“Ya saya suka melukis….ini adalah draft untuk cover buku seorang kawan”

Bukunya pun tentang perjalanan hidup yang ada senang, berliku dan susah tapi dengan ‘happy ending’, jelas dia sambil memberikan penjelasanan detail-detail bagian gambarnya ke saya.

Saya meminta ijin untuk pergi dahulu, dia menunggu untuk visanya yang sedang dalam proses, sapa terakhirnya: “Terima kasih….hati-hati ya…”

Hari kedua saya datang, seperti biasa arah balik dari route yang saya kirimkan Ibu dari Moskow, saya turun di Ampang Park station, keluar dan hire taxi.

“Indonesia embassy…” saya menyebut tujuan ke driver.

“Jam ni Encik…” saya berkeluh dengan sang driver yang memang KL itu sudah padat kendaraan. Jam (jem) adalah artinya macet dan biasa digunakan sebagai kata absorbsi di bahasa Malaysia dari bahasa Inggris.

“Ya nggak heran lagi…KL tuh jam, macet juga” jawabannya mencirikan dia dari orang Indonesia juga. Beberapa taxi driver dan juga orang MY suka menggunakan beberapa kata slang yang biasa kita pakai misal: ‘nggak’, ‘macet’, ‘cowok/cewek’, jika yang menaiki orang Indonesia.

“Eh..Encik dari mana semula”

“Saya orang Minang”, jawabnya.

Saya pun menyergah dengan bahasa padang yang dulu saya pelajari, dan akhirnya dia pun menyangka dari Minang juga karena selain sedikit bahasa minang saya tahu persis lokasi kampung halaman dia. 
Modal blusukan saat travel membuat detail kota Bukittinggi Sumatra sampai ke pedesaannya masih terekam bagus. Setidakya saya pernah datang 10 kali ke Bukittinngi. Mujurlah. Dan orang Minang seperti driver ini sudah mendapat IC Malaysia karena memang sejarahnya banyak orang dari Minang ke Malaysia sebagai satu kesatuan melayu.

Kini kita diskusi tentang Indonesia: 



“Disini macet masih bergerak…” , awal sang driver berdiskusi.

“Indonesia, Malaysia, Vietnam, Bangladesh, Philippine, India itu kotanya sama-samalah….”

“Saya ini tidak sekolah tapi saya sudah berkeliling negara-negara, dulu saya kerja kasar di kapal…lama di Africa malah”

“Betul saya putus sekolah…tapi saya boleh berpikirlah bagaimana membuat kota supaya tidak macet, saya masih punya pikir dan ingin hidup nyaman”

“Masa kota seperti Jakarta tidak ada MRT, itukan orang yang tidak bisa berpikir….”
 
Krisis mental sangat umum ditemukan pada para punggawa pemerintah.


“Rasuah (korupsi, red) disini juga ada, tapi bolehlah pemerintahannya berpikir untuk rakyatnya. Seperti takde nurani tu orang..”

Nadanya terbawa emosi, saya pun menyetujui pemikirannya. Saya merasakan betapa beratnya ketika saya naik KRL ke Depok, tidak ada pilihan memang jalanan macet tak bergerak, kereta penuh sesak panas lagi.  


Aih…saya melinang air mata. Memang saya senang memikirkan bangsa saya sendiri untuk maju. Setidaknya ingin memajukan attitude warga negeri saya sendiri, supaya berpikir maju dan open minded.

“Kenapa kau terdiam….”

Sesaat memang saya tak memberikan response, seperti tiba-tiba berhenti diskusi.

Saya jawab: “Saya berlinang Encik….terbawa emosi kesedihan negeri”.

Saya mengusap linangan air mata dengan sapu tangan, melintas di Jl Binjai yang memang sebelah kanan berdiri menara kembar nan jangkung dan sebelah kanan kiri jalan terlihat pedestrian yang bersih rapi dengan taman-taman indah.

“Itulah…rakyat negeri Anda mau kemana, saya pun masih merasa warga karena dulu dari sanalah…”
 
Kawasan taman kota yang bersepadu dengan bangunan modern di Kuala Lumpur

Saya sedih juga karena sang driver ini juga dulu orang Indonesia, dia masih berpikir, tidak acuh pada negeri asal muasalnya. Masih ada cinta.

Perjalanan pun usai, saya diberhentikan tepat di depan KBRI Kuala Lumpur yang ini adalah ibarat rumah sendiri di negeri sebelah. Sebenarnya saya mau meminta sang driver menunggu di depan KBRI untuk menghantar balik ke Ampang Park, namun saya memberikan ijin untuk meninggalkan lebih cepat karena ada warga Indonesia lain yang mau naik ketika saya keluar.

Saya memberikan senyum pada warga kita, saya berharap sang driver pun akan bercerita yang sama kepada penumpang itu.

Ketika saya memasuki gerbang KBRI, sang taxi memberikan klakson pelan sembari tangannya melambai. Indonesia, kita semua harus membangunnya, jiwa dan raga.
Posting Komentar