Minggu, 23 Maret 2014

Blusukan di Malaysia Part VIII: Pasar Petani

Satu hal yang sangat saya cermati adalah pertanyaan dari saudara saya sendiri ketika berkunjung ke Kuala Lumpur, kenapa di daerah luaran Kuala Lumpur tidak sebanyak mini market atau hipermarket seperti di Jakarta atau kota lainnya di Indonesia.

Ya, kisahnya pun dari satu kenangan lama saya, dulu waktu saya sekolah menengah mendapat ejekan karena saya di kota yang jaman dulu tidak ada mal. Anggapan masyarakat awam di negeri kita yang disebut hidup modern adalah berdampingan dengan mal, tapi kini apa yang terjadi disisi ekonomi mikro di Indonesia terhimpit oleh mini market yang hampir tidak terkontrol.

Lokasi pasar tani yang biasa dibuka ditengah pemukiman
Kini, saya senang sekali mempelajari pasar tani, ha...masak ada pasar tani di kota seperti Kuala Lumpur? Saya sudah masuk keluar pasar tani diberbagai tempat, di kompleks elite kawasan Kota Damansara atau pun di dusun kecil di Rawang, dekat Perak.

Memang saya tidaklah ahli dalam pertanian tapi setiap hal yang baik saya suka pelajari, saya suka berpikir untuk negeri Indonesia walau bagaimana mewujudkannya tentu bukan saya sendiri, saya ingin berbagi pemikiran, lalu apa yang baik saya suka terapkan untuk diri pribadi.

Menemukan pembeli dan petani secara langsung bisa menekan harga
Pagi ini saya ke pasar tani di samping stadium Shah Alam, Selangor Darul Ehsan, tenda-tenda karnival warna warni menjadi ciri khasnya. Pada dasarnya penjualannya dibuat blok-blok antara pasar basah dan kering. Namanya pertanian disini kita bisa mendapatkan ubi, ketela, umbi talas, ikan segar, udang, limau, kangkung, sampai baju dan mainan anak-anak bahkan asuransi pun ditawarkan. 

Apakah tempatnya nyempil diluar kota, tidak pasar tani ini seperti disebutkan diatas adalah disamping stadium besar, dan berdampingan dengan satu hypermarket besar, Giant. Dan dbiasa di kawasan pemukiman memang disediakan tempat untuk berjualan para petani ini. Yang datang berjubel dan lihatlah dari yang datang semua memarkir kendaraanya sampai dimana-mana, tapi tetap tertib dan free parking dan tidak ada pungutan liar. 

Prasarana yang baik untuk menunjang perekonomian di pasar tani
Jika datang kemari, inilah wujud pemberdayaan petani, sungguh yang berjualan ini memang dirangsang oleh pihak kerajaan. Ada kisah lain, ketika saya berada di sebuah perkantoran di Cyberjaya, suatu kawasan bisnis untuk berbagai company asing sekelas Dell, AMD. Saya berjumpa seorang yang mengundurkan diri dari perusahaan ternama karena dia ingin berjualan di pasar petani. Ya tidak dipungkiri, pintu rejeki yang utama adalah berniaga.

Mengemasnya bagus karena disisi lain banyak kedai sajian khas melayu, sangat menyeronokkan begitulah orang tempatan menyebutnya. Dan disini Anda bisa merasakan bagaimana kita bertemu dengan penduduk lokal dari berbagai usia. Ramai.
Berbagai hidangan khas melayu tersedia
Pasar tani seperti ini mengingatkan masa kecil di desa-desa di Indonesia, sebenarnya pasar seperti ini ada juga. Namun untuk di kota lahan itu tergerus dengan mal-mal, dan harga yang tidak dikontrol, tidak ada standard harga yang membuat orang malas untuk berkunjung. 

Jika dua pihak pemerintah dan masyarakat berfokus pada pertanian kelas bawah, tentu membawa kemakmuran bersama.  Satu hal lagi adalah kebersihan, bagaimana orang mau makan disitu jika baunya menyengat dengan lumpur yang becek bekas sayuran busuk. 
Posting Komentar